Satgas COVID-19 Ungkap 5 Klaster Penyumbang Kasus Positif Tertinggi di Indonesia
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah pun mengingatkan agar semua pihak terus disiplin menerapkan protokol kesehatan kala beraktivitas.

WowKeren - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengungkapkan lima klaster yang paling banyak menyumbang kasus virus corona di Indonesia. Menurut anggota Tim Pakar Satgas COVID-19, Dewi Nur Aisyah, klaster penularan corona di permukiman padat di DKI Jakarta dan Jawa Timur menyumbang angka kasus positif terbesar.

"Bahwa klaster tertinggi yaitu klaster yang berasal dari pemukiman atau lokal transmisi," ungkap Dewi dalam diskusi di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (3/8). "adi artinya ada seseorang yang positif kemudian mungkin yang tulari adalah keluarganya, keluarganya sudah keburu dia belanja ke warung, dia ikut arisan misalnya akhirnya mengenai orang-orang yang lain dalam satu wilayah yang sama."

Setelah itu, ada klaster pasar dan pusat pelelangan ikan yang menjadi penyumbang kasus COVID-19 tertinggi kedua. Di posisi ketiga ada klaster pusat pelayanan kesehatan.

Kemudian klaster tertinggi keempat adalah perkantoran yang menyumbang kasus positif COVID- 19 cukup banyak. "Ini (perkantoran) salah satunya juga menyumbang angka, karena kembali ketika masyarakat mulai beraktivitas mau tidak mau sudah mau ketemu dengan banyak orang. Lagi lagi protokol kesehatan harus diterapkan," ujar Dewi.


Sedangkan klaster terbesar kelima adalah rumah ibadah. Oleh sebab itu, Dewi mengingatkan agar semua pihak terus disiplin menerapkan protokol kesehatan kala beraktivitas.

"Kita juga melihat rumah ibadah ini juga ada angka klastering di sana," pungkas Dewi. "Beberapa klaster itu yang harus kita hati- hati."

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan jajarannya untuk gencar mengkampanyekan penggunaan masker sebagai antisipasi penularan COVID-19. Selain pemakaian masker, Jokowi juga meminta agar protokol kesehatan lainnya terus disosialisasikan secara galak. Diantaranya adalah kampanye menjaga jarak, rajin mencuci tangan, hingga tidak berkerumun.

Namun demikian, masih ada warga yang enggan menggunakan masker karena merasa sulit bernapas. Merespons hal tersebut, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban pun menegaskan bahwa penggunaan masker tidak akan mengakibatkan kematian.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts