Warga Lebanon Marah Atas Penyelidikan Ledakan di Beirut
Getty Images/Agence France-Presse
Dunia

Pemerintah Lebanon melakukan investigasi untuk menyelidiki penyebab ledakan tersebut dan mengatakan pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini akan ditempatkan dalam tahanan rumah.

WowKeren - Insiden ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon, pada Selasa (4/8) malam waktu setempat kini tengah menjadi sorotan internasional. Kini pemerintah melakukan investigasi untuk menyelidiki penyebab ledakan tersebut dan mengatakan pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini akan ditempatkan dalam tahanan rumah.

Akan tetapi, investigasi tersebut justru menimbulkan kemarahan warga Lebanon setelah terungkap bahwa penyebab ledakan adalah ribuan ton amonium nitrat yang disimpan selama enam tahun. Kemarahan tersebut diungkapkan oleh warga Lebanon melalui media sosial.

Sebagian besar warga Lebanon menuntut pertanggungjawaban mengenai bagaimana 2.750 ton bahan kimia yang mudah meledak disimpan di dekat permukiman Beirut selama lebih dari enam tahun. Mereka menilai kurangnya akuntabilitas, korupsi yang merajalela, dan kesalahan mengurus negara setelah perang saudara menjadi penyebab ledakan.

Kemarahan ini juga dipicu akibat pernyataan Menteri Pekerjaan Umum Lebanon, Michel Najjar, yang mengatakan bahwa dia mengetahui keberadaan bahan peledak yang disimpan di pelabuhan Beirut 11 hari sebelum ledakan. "Tidak ada menteri yang tahu apa yang ada di hanggar atau kontainer, dan bukan tugas saya untuk mengetahuinya," kata Najjar.

Najjar mengatakan dia menindaklanjuti masalah tersebut namun pada akhir Juli pemerintah memberlakukan lockdown di tengah pandemi virus corona. Pada Senin (3/8), Najjar berbicara dengan manajer umum pelabuhan, Hasan Koraytem. Ketika itu, Najjar meminta Koraytem mengirimkan semua dokumen yang relevan untuk penyelidikan lebih lanjut.


Namun permintaan Najjar ini dinilai sangat terlambat lantaran keesokan harinya ledakan tersebut terjadi dan menghancurkan sebagian besar kota Beirut.

Najjar lantas membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya telah mengirim 18 surat kepada hakim terkait masalah mendesak Beirut sejak 2014. Namun pengadilan tidak melakukan apa pun. Akan tetapi, Najjar menolak untuk memberikan dokumen tersebut dengan alasan penyelidikan berkelanjutan atas penyebab ledakan. "Pengadilan tidak melakukan apa-apa. Itu kelalaian," ujarnya.

Atas pernyataan tersebut, Nizar Saghieh selaku seorang ahli hukum terkemuka di Lebanon mengatakan tanggung jawab untuk mengawasi pelabuhan terletak pada otoritas pelabuhan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Bea Cukai Lebanon. Dia menegaskan bahwa hakim tidak memiliki peran untuk menemukan tempat-tempat yang digunakan menyimpan barang berbahaya.

"Jelas tidak tergantung pada hakim untuk menemukan tempat yang aman untuk menyimpan barang-barang ini," ujar Saghieh.

Di sisi lain, insiden yang terjadi di salah satu pelabuhan di Beirut ini dilaporkan merenggut lebih dari 135 nyawa dan melukai sekitar 3 ribu orang.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts