Para Mantan PM Lebanon Minta PBB dan Liga Arab Lakukan Investigasi Internasional Ledakan Beirut
Associated Press/Hassan Ammar
Dunia

Di antara para Perdana Menteri tersebut adalah Najib Mikati, Fouad Siniora, Saad Hariri, dan Tammam Salam, yang mengadakan pertemuan darurat di Center House untuk membahas situasi terkini di Lebanon.

WowKeren - Sejumlah mantan Perdana Menteri Lebanon mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab membentuk komite investigasi internasional untuk menyelidiki penyebab ledakan yang terjadi di Beirut pada Selasa (4/8) malam waktu setempat. Di antara para Perdana Menteri tersebut adalah Najib Mikati, Fouad Siniora, Saad Hariri, dan Tammam Salam, yang mengadakan pertemuan darurat di Center House untuk membahas situasi terkini di Lebanon.

"Kami meminta PBB atau Liga Arab membentuk komite investigasi internasional atau Arab yang terdiri dari hakim dan penyelidik profesional yang tidak memihak untuk menyelidiki, dan mengungkap penyebab bencana yang terjadi di Lebanon," ujar Siniora yang membacakan pernyataan bersama mantan Perdana Menteri Lebanon.

Siniora juga mengatakan para mantan Perdana Menteri meminta semua pihak di pelabuhan bekerja sama agar tidak merusak tempat kejadian perkara sehingga memudahkan penyelidikan. Siniora menambahkan, komite investigasi internasional harus dibentuk karena sebagian besar warga Lebanon sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap pemerintah.

"Sudah menjadi tugas kita untuk memastikan solidaritas dan kerja keras, terutama mengingat fakta yang jelas dan hasil investigasi yang transparan untuk mengungkap tanggung jawab langsung dan tidak langsung dari bencana ini, yang terjadi di bawah pengawasan badan-badan resmi Lebanon yang ada di Pelabuhan," imbuh Siniora.


Dia menyatakan situasi Beirut yang kini telah hancur lebur membutuhkan bantuan internasional agar kembali bangkit. Dia menerangkan kepada seluruh warga Lebanon bahwa dunia internasional dan Arab peduli dengan situasi Lebanon saat ini.

Sebagai informasi tambahan, Presiden Lebanon, Michel Aoun, menetapkan status darurat untuk melancarkan proses evakuasi. Presiden Michael Aoun mengatakan ledakan itu berasal dari sebuah gudang dekat pelabuhan Beirut yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat.

Ribuan ton amonium nitrat itu disebut tersimpan secara tidak aman selama kurang lebih enam tahun. Dalam pernyataan resminya, Aoun pun bersumpah akan menjatuhkan "sanksi terberat" terhadap pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Ia juga menetapkan status darurat nasional selama dua pekan terkait insiden di Beirut.

Sedangkan Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyatakan bahwa jumlah kerugian akibat ledakan dahsyat itu ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Abboud mengatakan sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal karena rusak terkena dampak ledakan.

Di sisi lain, ledakan besar yang terjadi di kawasan pelabuhan Beirut itu menewaskan setidaknya 135 orang dan melukai ribuan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sampai saat ini kepolisian setempat telah menetapkan sejumlah pejabat di badan pelabuhan Beirut sebagai tahanan rumah, terkait proses penyelidikan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts