Intelijen AS Klaim Tiongkok Ingin Trump Kalah di Pilpres November
Getty Images
Dunia

Tiongkok dinilai memengaruhi kebijakan negeri Paman Sam maupun memberikan tekanan pada tokoh politik yang dianggap berlawanan dengan kepentingan negeri Tirai Bambu tersebut.

WowKeren - Pusat Kontra-Intelijen dan Keamanan Nasional Amerika Serikat alis National Counterintelligence and Security Center (NCSC) mengklaim Tiongkok tengah berupaya untuk memengaruhi hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada bulan November mendatang. Pasalnya, Tiongkok diduga menginginkan kekalahan Donald Trump dalam pilpres tersebut.

"Kami menilai Tiongkok lebih suka Presiden Trump tidak memenangkan pilpres kembali," ujar Direktur NCSC, William Evanina, seperti dilansir dari CNN pada Sabtu (8/8).

Lebih lanjut, Evanina juga mengungkapkan upaya Tiongkok kian gencar sebelum pilpres digelar pada November 2020. Hal itu dilakukan dengan memengaruhi kebijakan negeri Paman Sam maupun memberikan tekanan pada tokoh politik yang dianggap berlawanan dengan kepentingan Tiongkok.

Ia menyebutkan upaya-upaya itu tampak dari kritik Tiongkok terhadap berbagai hal mulai dari cara Trump menangani pandemi, penutupan konsulat Tiongkok di Houston, hingga sikap AS terhadap kebijakan Tiongkok di Hong Kong dan Laut China Selatan. "Beijing menganggap berbagai upaya yang dilakukan dapat memengaruhi hasil pilpres," ujar Evanina.


Evanina juga menyebut Iran menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan informasi yang salah demi memecah opini publik AS.

Sebagai informasi tambahan, ketegangan antara AS-Tiongkok terus memuncak terutama setelah bertikai terkait penutupan gedung konsulat. AS memerintahkan Tiongkok menutup kantor konsulatnya di Houston, Texas, karena dianggap menjadi sarang intelijen Negeri Tirai Bambu. Sementara itu, Tiongkok juga turut melakukan hal serupa dengan menutup paksa kantor konsulat AS di Chengdu sebagai balasan.

Dalam beberapa waktu terakhir, hubungan antara AS dan Tiongkok memang terus memanas. Hal ini bermula ketika AS menuduh bahwa Tiongkok mungkin telah mengetahui virus corona (COVID-19) pada awal November 2019. Tudingannya tersebut menyusul pernyataannya tentang Tiongkok yang dinilainya sama sekali tak transparan soal virus corona dan membuat banyak negara menjadi kesulitan menghadapi pandemi ini.

Pemerintah Tiongkok sendiri telah membalas pernyataan AS dan mengatakan bahwa tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar dan sepenuhnya untuk tujuan menyalahkan orang lain. Menurut mereka, komentar AS bertentangan dengan konsensus umum komunitas global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, mengatakan bahwa negaranya telah memberikan informasi yang tepat waktu kepada dunia dan aktif bekerja sama dengan yang lain.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts