Sederet 'Aib' Lebanon yang Terungkap Pasca Ledakan Dahsyat Beirut
Dunia
Ledakan Besar Beirut

Sejumlah 'aib' pemerintahan Lebanon mulai terungkap pasca terjadinya ledakan besar di Beirut yang memakan ratusan korban jiwa dan ribuan korban luka-luka pada Selasa (4/8) lalu.

WowKeren - Lebanon tengah berduka usai negara tersebut mengalami ledakan dahsyat di pelabuhan di kota Beirut pada Selasa (4/8) lalu. Ledakan besar yang terjadi di sekitar pelabuhan tersebut tak hanya membuat negara tersebut porak-poranda tapi juga menelan ratusan korban jiwa hingga ribuan warga luka-luka.

Tragedi ini tentunya menambah tekanan pada Lebanon yang kini dalam masa sulit akibat pandemi virus corona (COVID-19) dan krisis ekonomi yang telah berlangsung lama. Dikutip dari BBC, kekacauan ekonomi tersebut mengakibatkan puluhan ribu orang di negara itu telah terperosok ke dalam kemiskinan.

Selain itu, muncul pula protes anti-pemerintah secara besar-besaran pasca tragedi ledakan terjadi. Seperti yang diketahui, pandemi COVID-19 telah memberi pukulan besar dengan membuat Lebanon menjadi negara tertinggi ketiga dunia yang memiliki hutan produk domestik bruto (PDB) lebih banyak dibandingkan penghasilannya. Angka pengangguran di negara tersebut juga tinggi, mencapai 25% dan hampir sepertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

Keadaan ekonomi ini semakin diperparah dengan adanya skema utang yang dijalankan oleh bank sentral negara itu. Dimana bank sentral telah meminjam dari bank komersial dengan suku bunga di atas pasar untuk membayar kembali utangnya dan mempertahankan nilai tukar tetap (fixed exchange rate) pound Lebanon dengan dolar Amerika Serikat (AS).


Pemerintah juga gagal dalam menyediakan pelayanan dasar untuk warganya. Di mana warga harus berurusan dengan pemadaman listrik setiap hari, kekurangan air minum yang layak, memiliki layanan kesehatan publik yang terbatas, dan sejumlah koneksi internetnya merupakan yang terburuk di dunia.

Hal ini kemudian menimbulkan demo besar-besaran yang puncaknya terjadi pada Oktober 2019 lalu. Saat itu, negara dilanda kekurangan mata uang asing yang menyebabkan pound Lebanon kehilangan nilai terhadap dolar di pasar gelap. Industri pun terdampak kejadian itu, dan karenanya serikat pekerja melakukan pemogokan.

Belum selesai masalah tersebut, Lebanon juga dilanda kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pegunungan barat. Kejadian itu menguak fakta bahwa dana dan kelengkapan layanan pemadam kebakaran di Lebanon sangat minim.

Selanjutnya, pemerintah juga mengusulkan pajak baru untuk tembakau, bensin, dan panggilan suara melalui layanan pesan seperti WhatsApp untuk mendapatkan lebih banyak pendapatan, tetapi protes keras memaksa negara untuk membatalkan rencana tersebut. Keputusan tersebut memicu gelombang ketidakpuasan yang telah membara di Lebanon selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Menteri Informasi Lebanon, Manal Abdel Samad, resmi mengundurkan diri pada Minggu (9/8) waktu setempat. Pengunduran diri dilakukan karena ia merasa mengecewakan rakyat usai insiden ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8) lalu.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts