Jokowi Cemaskan Gelombang 2 Corona, Epidemiolog Sigap Bongkar Bukti Yang Pertama Belum Usai
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pakar Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, menegaskan negara saat ini bahkan belum berhasil mengatasi gelombang pertama wabah virus Corona. Berikut sederet buktinya.

WowKeren - Sudah beberapa kali Presiden Joko Widodo mengungkapkan potensi terjadinya gelombang kedua wabah virus Corona. Seperti yang terbaru ketika ia memberi sambutan di acara Kongres Luar Biasa Gerindra pada Sabtu (8/8) kemarin.

"Jangan sampai kita masuk gelombang kedua," tegas Jokowi, dilansir Kumparan pada Senin (10/8). "Second wave yang memperlambat kita untuk pulih kembali. Kuncinya adalah disiplin menjalankan protokol kesehatan."

Namun kekhawatiran Jokowi ini belakangan ditepis oleh Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono. Sebab alih-alih mengkhawatirkan gelombang kedua, Pandu menilai semestinya Jokowi fokus merampungkan gelombang pertama yang belum sampai di garis akhir.

"Beliau mendapat informasi yang tidak akurat," ujar Pandu, Minggu (9/8). Ia lantas membeberkan sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa Indonesia bahkan belum sukses mengatasi gelombang pertama wabah virus Corona.


Yang pertama adalah dari segi kurva perkembangan kasus yang masih terus menanjak alih-alih melandai. Bahkan sejak akhir Juli hingga kini, penambahan kasus positif COVID-19 Indonesia setiap harinya bisa mencapai hampir 2 ribu dengan total sampai Minggu (9/8) kemarin adalah 125.396 pasien.

Yang kedua perihal jumlah tes COVID-19 yang di Indonesia ternyata masih sangat minim. Hingga Minggu kemarin, baru 972.594 orang yang menjalani tes COVID-19, sehingga rasionya sekitar 3.588 per 1 juta penduduk.

"Pemerintah belum serius dalam meningkatkan kapasitas tes," tutur Pandu. Padahal saat ini positivity rate atau tingkat kepositifan kasus masih begitu tinggi, yakni mencapai 12,9 persen, dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 10 persen.

Sedangkan yang terakhir adalah perihal kematian akibat infeksi virus Corona. Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, menyebut tingkat kematian Indonesia memang terus menurun dengan kini mencapai 4,6 persen dari total kasus terkonfirmasi.

Angka ini sendiri masih lebih tinggi ketimbang tingkat global, yakni 3,6 persen. Selain itu, jumlah kasus kematian per minggunya pun masih fluktuatif. Padahal bukti wabah sudah terkendali apabila kasus kematian turun secara konsisten selama paling tidak 4 pekan berturut-turut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts