Demi Jaga Antartika Bebas COVID-19, Ilmuwan Kurangi Personel Saat Penelitian Musim Panas
Dunia
Pandemi Virus Corona

Para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia mengurangi jumlah personelnya untuk terbang ke Antartika pada musim panas mendatang. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga benua es tersebut tetap bebas dari COVID-19.

WowKeren - Hingga saat ini, Antartika masih menjadi satu-satunya benua yang bebas dari virus corona (COVID-19). Namun, sebagian besar ilmuwan dari penjuru dunia biasanya akan melakukan perjalanan ke benua yang diselimuti es tersebut untuk mempelajari terkait perubahan iklim.

Dilansir dari National Geographic, musim panas di Antartika akan menjadi waktu yang sibuk bagi para ilmuwan. Musim panas di Antartika sendiri di mulai pada bulan Oktober mendatang.

Pada musim ini ribuan ilmuwan dari lusinan negara biasanya akan berkumpul di stasiun penelitian jarak jauh di benua ini. Sedikitnya terdapat lebih dari 40 pangkalan permanen yang menandai lanskap terpencil, dan jumlahnya hampir berlipat ganda saat fasilitas khusus musim pana mulai beroperasi.

Namun, untuk saat ini sebagian besar ilmuwan akan dikurangi dan tidak dapat melakukan perjalanan ke Antartika pada musim mendatang. Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran COVID-19 ke benua es tersebut.


Kendati demikian tak dipungkiri jika hal itu juga turut menganggu penelitian yang mendesak. Penelitian yang dilakukan para ilmuwan di benua Antartika mencakup banyak bidang sains.

Di antaranya pemindaian bintang dengan teleskop oleh para ahli astronomi, maupun mempelajari beberapa spesies hewan paling luar biasa di dunia, hingga penelitian lingkungan terkait perubahan iklim yang juga menjadi ancaman besar bagi planet ini. Para ilmuwan iklim memanfaatkan benua ini untuk mempelajari gelembung purba yang terperangkap dalam es, untuk memahami sejarah Bumi. Hingga pemantauan lapisan es yang mencair seiring menghangatnya samudera selatan sebagai upaya memprediksi kemungkinan masa depan planet ini.

Namun, sebagian besar ilmuwan harus melakukan pekerjaan ini jauh dari benua di musim ini, dengan mengandalkan sensor jarak jauh dan volume berdasarkan data serta sampel yang dikumpulkan pada tahun-tahun sebelumnya. "Ini sangat memilukan. Kami hanya memiliki beberapa tahun lagi untuk membuat beberapa perubahan yang sangat signifikan untuk menghindari konsekuensi perubahan iklim yang buruk, dan kami tidak bisa menunggu setahun," ungkap Nancy Bertler, direktur Platform Sains Antartika di Selandia Baru.

Diketahui, Australia dan Jerman melaporkan akan memangkas anggota tim ilmuwannya sebesar 50 persen dan Selandia Baru mengurangi 66 persen timnya. Dengan membatasi jumlah peneliti di stasiun penelitian ini juga membantu memastikan, apabila misalnya virus corona berhasil lolos, maka akan lebih sedikit orang yang akan terpapar.

Sementara itu, ada anggapan yang menyebutkan jika COVID-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2 akan menjadi lebih berbahaya di musim dingin dibandingkan saat musim panas.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts