4 Hal Ini Dianggap Jadi Penyebab Utama Marak Klaim Obat COVID-19
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Hingga kini belum ada vaksin yang bisa menyembuhkan dari virus corona sehingga masyarakat menjadi panik akan terinfeksi. Hal inilah yang mendasari munculnya pengobatan sendiri.

WowKeren - Di tengah ancaman pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai, publik juga dibuat bingung dengan kemunculan obat-obat yang diklaim bisa menyembuhkan tubuh dari virus corona. Kekinian adalah obat COVID-19 ala Hadi Pranoto.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai maraknya klaim obat anti corona disebabkan karena sejumlah hal. Ketua Pengurus Harian YLKI Abadi Tulus menyebut jika sedari awal pandemi, manajemen pemerintah kurang baik dalam menghadapi persoalan tersebut. "Pertama, hal itu terjadi karena buruknya politik manajemen penanganan wabah oleh pemerintah sejak awal," kata Tulus di Jakarta, Senin (10/8).

Ia mencontohkan ketika pandemi ini muncul awal-awal, pejabat pemerintah dinilai tidak memberikan contoh yang baik. Misalnya saja terkait istilah nasi kucing yang membuat Indonesia kebal dari virus tersebut.

"Selevel pejabat publik juga memberikan contoh yang kurang baik," ujar Tulus. "Membodohkan dan kurang mencerdaskan. Kalau ada klaim-klaim bermunculan itu sebenarnya efek dari semuanya."


Lalu faktor kedua adalah kurangnya literasi pada masyarakat terkait obat-obatan. Untuk itu, perlu adanya upaya pemahaman publik mengenai produk obat, jamu tradisional dan herbal. Jika masyarakat paham literasi ini maka mereka bisa mengerti apa yang diiklankan bohong atau tidak.

Lalu faktor berikutnya terkait aspek psikologis konsumen. Hingga kini belum ada vaksin yang bisa menyembuhkan dari virus corona sehingga masyarakat menjadi panik akan terinfeksi. Hal inilah yang mendasari munculnya pengobatan sendiri. "Akibatnya, banyak masyarakat mencari jalan ke luar sendiri untuk membuat obat dan melakukan pengobatan sendiri," katanya.

Memang tidak salah jika masyarakat melakukan pengobatan sendiri. Namun yang jadi persoalan adalah ketika produk tersebut dikomersialkan.

Lalu berikutnya adalah faktor ekonomi. Pandemi COVID-19 telah merampas mata pencaharian banyak orang. Di tengah kondisi yang sulit banyak orang mencari alternatif pemasukan lain salah satunya dengan cara klaim obat tersebut.

Terakhir adalah lemahnya penanganan aspek hukum. "Saya kira empat hal ini yang melingkupi mengapa klaim obat COVID-19 itu menjadi marak," ujar Tulus.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts