21 SMP Surabaya Selesai Simulasi Sekolah Tatap Muka, Ternyata Tak Semua Penuhi Syarat
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Dari simulasi yang dilakukan, diharapkan pemerintah bisa mendapat gambaran apakah peserta didik mampu menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 sesuai dengan ketentuan

WowKeren - Sebanyak 21 SMP di Surabaya telah selesai menggelar simulasi pembelajaran tatap muka. Ke-21 sekolah tersebut berasal dari sekolah negeri dan swasta.

"Simulasi sekolah tatap muka (di 21 SMP) sudah semua," kata Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Sudarminto, Senin (10/8). Simulasi tersebut dilakukan dalam waktu kurang dari satu pekan.

Ia menjelaskan tujuan dilakukannya simulasi tersebut. Dari simulasi yang dilakukan, diharapkan pemerintah bisa mendapat gambaran apakah peserta didik mampu menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 sesuai dengan ketentuan.

"Simulasi ini kami lakukan untuk memberikan gambaran apakah peserta didik, pihak sekolah menerapkan protokolnya mulai dari pintu gerbang, di kelas, hingga pulang, semua harus ada SOP-nya," kata Sudarminto melanjutkan. "Sehingga, sewaktu-waktu jika diminta untuk masuk semua sudah siap."

Dari 21 SMP yang melakukan simulasi tersebut, rupanya tidak semua memenuhi kriteria. "Ada tiga sekolah yang tidak memenuhi syarat," ujarnya.


Salah satu alasan sekolah dianggap tidak memenuhi syarat adalah kurangnya penerapan protokol kesehatan. Selain itu, tak semua sekolah memiliki sarana yang mendukung untuk penerapan protokol kesehatan tersebut.

"Seperti sirkulasi udaranya kurang, protokol kesehatannya kurang, kesiapannya juga kurang," lanjutnya. "Untuk buka, kami masih nunggu instruksi."

Meski simulasi sudah selesai dilakukan, namun masih belum ada kepastian terkait kapan sekolah akan dibuka di Surabaya. Sebab hal itu harus menunggu rekomendasi dari Satgas COVID-19 Surabaya.

"Sebelum ada rekomendasi dari Tim Satgas COVID-19 Kota Surabaya ya belum kami izinkan masuk," ujarnya lagi. "Kami (Dispendik Surabaya) masih menunggu informasi dari Satgas."

Rencana pembukaan sekolah di Kota Pahlawan tak lepas dari kritikan. Hal ini mengingat penyebaran kasus COVID-19 di wilayah ini yang belum benar-benar "hijau" sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan para murid.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo meminta Pemkot untuk berhati-hati lantaran secara epidemiologis Surabaya masih belum aman dari ancaman COVID-19.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts