Pakar Medis Ragukan Efektivitas Vaksin Corona, Kenapa?
Health
Vaksin COVID-19

Pakar medis yang juga menjadi salah seorang penasihat gugus tugas penanganan virus corona di Gedung Putih Amerika Serikat (AS), Dr. Anthony Fauci, mengungkapkan keraguannya atas efektivitas vaksin COVID-19.

WowKeren - Perusahaan-perusahaan dari berbagai belahan dunia kini tengah mengembangkan vaksin virus corona (COVID-19). Setidaknya kini sudah ada tujuh calon vaksin corona yang memasuki uji klinis tahap final. Salah satunya adalah vaksin produksi perusahaan Tiongkok, Sinovac, yang uji klinisnya juga dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

Meski demikian, keraguan atas efektivitas vaksin corona ini juga turut menyeruak. Salah satu pihak yang menyuarakan keraguan ini adalah pakar medis yang juga menjadi salah seorang penasihat gugus tugas penanganan virus corona di Gedung Putih Amerika Serikat (AS), Dr. Anthony Fauci.

Fauci menilai peluang terciptanya vaksin yang sangat efektif dan dapat memberikan perlindungan nyaris total terhadap virus corona hanya sedikit. Para ilmuwan sejauh ini berharap dapat mewujudkan vaksin corona yang setidaknya 75 persen efektif.

"Kita belum tahu tingkat kemanjurannya—apakah 50 atau 60 persen. Saya ingin 75 persen atau lebih. Tapi kans untuk mendapatkan vaksin yang 98 persen efektif tidaklah besar," terang Fauci dilansir Reuters pada Selasa (11/8). "Artinya, kita tak boleh mengabaikan protokol kesehatan."


Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS sendiri akan meloloskan vaksin corona untuk diproduksi massal meski tingkat efektivitasnya hanya 50 persen. Yang paling penting adalah vaksin corona tersebut aman untuk digunakan.

Selain itu, Fauci juga mencemaskan durabilitas vaksin COVID-19. Berdasarkan pengalaman dengan jenis virus corona lain yang telah muncul terlebih dahulu, vaksin yang dikembangkan saat ini kemungkinan tak dapat memberikan perlindungan jangka panjang.

"Jika kita melihat sejarah virus-virus corona, virus corona umum yang menyebabkan flu biasa memiliki vaksin dengan kekebalan berkisar antara tiga sampai enam bulan saja," jelas Fauci. "Selalu kurang dari setahun. Itu proteksi yang minim."

Dalam penelitian awal, ditemukan bahwa respons imun terhadap SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 kemungkinan serupa dengan SARS-CoV dan MERS-CoV (virus corona penyebab SARS dan MERS). Diketahui, imunitas terhadap SARS dan MERS dapat bertahan selama beberapa tahun, tapi perlindungan antibodi cenderung memudar dalam rentang waktu setahun setelah seseorang terinfeksi. Ini berarti, orang-orang yang pernah terjangkit COVID-19 dan dinyatakan sembuh bisa terinfeksi kembali kemudian hari.

CEO perusahaan AstraZeneca, Pascal Soriot, bahkan menyatakan bahwa vaksinnya mungkin hanya bisa efektif sampai satu tahun. Diketahui, perusahaan AstraZeneca kini bekerja sama dengan Universitas Oxford dalam mengembangkan vaksin corona dengan nama teknis ChAdOx1 nCoV-19.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts