Kongo Nekat Kembali Buka Sekolah di Tengah Pandemi COVID-19 dan Ebola
Dunia
Pandemi Virus Corona

Presiden Kongo Tshisekedi meminta siswa-siswi menghindari kontak langsung dan rajin mencuci tangan. Segala upaya pencegahan harus dilakukan agar keluarga dan lingkungan tidak terpapar virus.

WowKeren - Sekolah dan universitas di Republik Demokratik Kongo dibuka kembali mulai Senin (10/8). Pembukaan kembali dilakukan setelah lebih dari empat bulan ditangguhkan di tengah pandemi COVID-19.

Presiden Felix Tshisekedi mengunjungi beberapa sekolah di ibu kota Kinshasa. Dalam kunjungan ini, Tshisekedi memberi selamat dan berterima kasih kepada Kementerian Pendidikan atas upaya mereka memastikan pembukaan kembali sekolah berjalan dengan lancar.

"Kami meminta Anda untuk berhati-hati. Kami telah mencabut keadaan darurat, tetapi virusnya masih ada," kata Tshisekedi kepada siswa di Sekolah Menengah Athenee De La Gombe Eligo.

Tshisekedi lantas menyebut anak muda memanglah sosok yang tangguh. Namun, mereka bisa menjadi pembawa virus di tengah masyarakat. Tshisekedi meminta siswa-siswi menghindari kontak langsung dan rajin mencuci tangan. Segala upaya pencegahan harus dilakukan agar keluarga dan lingkungan tidak terpapar COVID-19.

Setelah dari Sekolah Menengah Athenee De La Gombe Eligo, Tshisekedi melanjutkan kunjungan ke Universitas Kinshasa. Pembukaan kembali sekolah awalnya dijadwalkan pada 3 Agustus. Tetapi, Menteri Pendidikan, Willy Bakonga, mengumumkan rencana itu ditunda karena alasan teknis dan administratif.


Negara Afrika Tengah sejauh ini mencatat 9.454 kasus virus COVID-19. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, ada 224 kasus kematian dan 8.324 pemulihan.

Selain COVID-19, Kongo juga tengah berjuang melawan wabah ebola, yang dilaporkan terus mengalami peningkatan. Bahkan Direktur Program Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan, mengatakan bahwa kasus Ebola di Kongo ini tidak terkontrol. "Penyakit ini aktif, tidak terkontrol," tutur Ryan.

Sejak Juni, sejumlah kasus Ebola terdeteksi di daerah Mbandaka. Wabah tersebut telah menyebar ke enam zona kesehatan, dengan 56 kasus tercatat. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan saat Ebola ditemukan di daerah tersebut pada 2018 yakni sebanyak 54 kasus terkonfirmasi.

"Merespons Ebola di tengah-tengah pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung adalah kompleks, tetapi kita tidak boleh membiarkan COVID-19 mengalihkan kita dari penanganan ancaman kesehatan mendesak lainnya," kata Direktur Regional WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti.

Menurut Moeti, kasus-kasus Ebola yang dilaporkan saat ini berada atau tersebar di daerah terpencil di hutan hujan lebat. Respons Ebola yang sedang berlangsung menghadapi kekurangan dana. Sejauh ini WHO telah mengucurkan USD 1,75 juta yang hanya dapat bertahan beberapa pekan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts