Bakal Jadi Yang Terbesar di ASEAN, Ini Alasan Observatorium Dibangun di Gunung Timau
Pixabay
Nasional

Kepala Balai Observatorium Nasional Kupang Bambang Suhandi mengatakan pertimbangan membangun observatorium ini sudah berdasarkan hasil studi 5 tahun fraksi malam.

WowKeren - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah membangun Observatorium Nasional Timau, di daerah Gunung Timau, NTT. Pembangunan ini dilakukan dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung, Universitas Nusa Cendana, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kabupaten Kupang.

Belakangan, terungkap alasan pemilihan lokasi tersebut. Kepala Balai Observatorium Nasional Kupang Bambang Suhandi mengatakan jika pertimbangan membangun observatorium terbesar di Asia Tenggara tersebut berdasarkan hasil studi.

Melalui studi yang dilakukan selama 5 tahun fraksi malam terhadap langit di Indonesia, Kupang mencatat waktu langit cerah paling banyak dalam satu tahun dibanding tempat lainnya di Indonesia. Kondisi lainnya yang mendukung adalah kawasan Gunung Timau masih minim polusi cahaya.

"Sekitar 70 persen dalam 1 tahun," ujar Bambang dilansir CNN Indonesia, Rabu (12/8). "Selain itu, kawasan Gunung Timau masih minim polusi cahaya, sehingga langitnya baik untuk pengamatan astronomi."

Nantinya jika Obnas ini sudah beroperasi, Bambang berharap bisa bermanfaat untuk para peneliti Tanah Air terkait bidang astronomi. Mulai dari pencarian planet hingga menguak misteri materi dan energi gelap. Proses pembangunan Obnas ini akan segera rampung sehingga ditargetkan pada 2021 bisa mulai beroperasi.


"Pembukaan Observatorium Nasional Kupang diharapkan terlaksana pada pertengahan Tahun 2021," lanjutnya menjelaskan. "Dan dioperasikan secara penuh pada akhir tahun 2021."

Obnas yang menelan anggaran Rp 340 miliar tersebut akan mendatangkan teleskop dari Jepang. Teleskop yang digunakan adalah teleskop besar dengan cermin majemuk berukuran 3,8 meter.

Ke depan, jika infrastruktur akses menuju lokasi sudah dibangun, Obnas ini juga bisa dikunjungi oleh masyarakat umum. Obnas ini diharapkan bisa menjadi destinasi wisata langit gelap.

"Sudah dibangun jalan menuju lokasi namun belum mulus jalan semuanya, masih rusak sekitar 17 kilometer lagi," ujarnya. "Ke depannya harapannya bisa tersedia dan disiapkan untuk mendukung wisata langit gelap."

Sementara itu, progres pembangunan sedikit molor. Hal ini disebabkan karena sulitnya akses menuju ke Timau.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts