Rektor UMJ Terinfeksi Corona Buat Satu Gedung Ditutup, Ini Nasib Mahasiswa
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19) hingga satu gedung terpaksa ditutup. Bagaimana nasib mahasiswa?

WowKeren - Penyebaran virus corona (COVID-19) dilaporkan kembali terjadi di lingkungan akademis. Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Demi mencegah penularan COVID-19 semakin meluas, UMJ langsung menutup gedung rektorat mereka selama 14 hari ke depan. Selain itu, pihak kampus juga langsung melakukan rapid test kepada seluruh pegawai yang bekerja di rektorat.

”Pihak universitas menutup kantor rektorat selama 14 hari ke depan dan melakukan rapid test di lingkungan pegawai di rektorat,” ungkap Kepala Humas UMJ Em Sumisran seperti dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (13/8). “Serta melakukan penyemprotan disinfektan.”

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 menyatakan hingga saat ini masih belum ditemukan pegawai lain yang positif terinfeksi virus corona. Namun, nantinya pegawai yang mendapatkan hasil reaktif pada rapid test akan langsung diminta untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari ataupun perawatan di rumah sakit bergantung pada gejala.


Satgas COVID-19 juga turut menyampaikan jika tidak ada mahasiswa dalam lingkungan tersebut yang sedang melaksanakan aktivitas perkuliahan. Meski demikian, UMJ memang saat ini sedang menjalani proses penerimaan mahasiswa baru.

Adapun tempat pendaftaran mahasiswa baru dinilai Satgas COVID-19 tetap aman dan sudah disiapkan di luar gedung rektorat. Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 bagi mahasiswa baru juga telah tersedia dengan cukup baik.

“Tempat penerimaan mahasiswa baru secara langsung selama ini berada di luar kantor rektorat,” jelas Em Sumisran. “Dan kami mempersiapkan tempat pendaftaran yang aman dengan protokol COVID-19 yang tersedia secara baik.”

Hingga Rabu (12/8), DKI Jakarta telah mencatatkan kasus virus corona sebesar 17.349 orang. Dari jumlah tersebut, Jakarta mencatatkan terjadinya sembilan klaster penyebaran COVID-19 di lingkungan publik. Diantaranya rumah sakit, komunitas, pasar, perkantoran, pekerja migran, kegiatan keagamaan, pegawai kesehatan, panti dan rutan.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts