Mozambik Buka Suara Soal Pesanan Ribuan Ton Amonium Nitrat yang Meledak di Lebanon
Associated Press/Hassan Ammar
Dunia

Ribuan ton amonium nitrat tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia pada 2013. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.

WowKeren - Pemerintah Mozambik menyatakan tidak bertanggungjawab atas ledakan di Lebanon meski perusahaan asal negaranya mengaku sebagai pemesan amonium nitrat. Seperti yang diketahui, ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut disebabkan ribuan amonium nitrat yang disimpan digudang selama bertahun-tahun tanpa pengamanan.

Perusahaan swasta Mozambik, Fabrica de Explosivos de Mocambique (FEM) mengakui bahwa mereka memang memesan amonium nitrat dari Georgia pada 2013 tapi tidak pernah menerimanya. "Masalahnya bukan pada amonium nitrat, tapi kepada proses penyimpanan dan memahami mengapa (bahan) itu bertahan begitu lama di pelabuhan itu," kata juru bicara pemerintah Mozambik, Filimao Suaze, dilansir dari CNN.

"Kami ingin meyakinkan Anda bahwa cara kerja pejabat pelabuhan Mozambik dan perusahaan yang terkait dengan area ledaka sejalan dengan peraturan," ujarnya.

Amonium nitrat memiliki kegunaan ganda sebagai pupuk atau bahan peledak. Di Mozambik, bahan itu digunakan oleh industri pertambangan. Disebutkan bahwa perusahaan FEM tersebut memesan amonium nitrat dari perusahaan yang berbasis di Georgia bernama Savaro pada 2013 untuk dikirim ke pelabuhan Beira di Mozambik. Namun pesanan tersebut tak pernah terkirim.


Di sisi lain, sebelumnya Presiden Lebanon Michael Aoun telah menyatakan bahwa insiden ini disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di dekat pelabuhan selama lebih dari enam tahun. Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan.

Terlepas dari hal tersebut, Aoun juga menyebut total nilai kerugian akibat ledakan di Pelabuhan Beirut mencapai USD 15 miliar atau setara dengan Rp221 triliun. Nilai taksiran kerugian tersebut diungkapkan Aoun saat dalam perbincangan via telepon dengan Raja Spanyol Felipe, pada Rabu (12/8) waktu setempat. "Perkiraan awal kerugian setelah ledakan di pelabuhan mencapai USD 15 miliar," kata Presiden Michael Aoun, sebagaimana dilansir dari CNN pada Kamis (13/8).

Ledakan tersebut menewaskan 200 orang dengan ribuan warga yang terluka, menghancurkan area hingga radius 5 kilometer. Disebutkan pula sebanyak 300 ribu penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal layak akibat hancur atau rusak berat terdampak ledakan.

Dua ledakan besar yang mengguncang Beirut terjadi di tengah krisis ekonomi dan pandemi COVID-19 yang menghimpit Lebanon. Warga Lebanon turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa memprotes pemerintah, meskipun Perdana Menteri Hassan Diab dan pemerintahannya telah mengundurkan diri.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts