Mauritius Minta Ganti Rugi Setelah Kapal Jepang Tumpahkan Minyak ke Laut dan Rusak Ekosistem
AP/Nick Cole
Dunia

Perdana Menteri Mauritius, Pravind Jugnauth, mengatakan bahwa negaranya akan meminta kompensasi dari pemilik kapal Wakashio, Nagashiki Shipping, atas kerusakan lingkungan parah.

WowKeren - Pemerintah Mauritius mengatakan sedang berupaya meminta ganti rugi dari pemilik kapal MV Wakashio asal Jepang, setelah kandas dan mengakibatkan tumpahan minyak di kawasan perairan setempat.

Pada Kamis (13/8) waktu setempat, Perdana Menteri Mauritius, Pravind Jugnauth, mengatakan Mauritius akan meminta kompensasi dari pemilik Wakashio, Nagashiki Shipping, atas kerusakan lingkungan parah.

Beberapa bagian perairan biru kehijauan di sekitar Mauritius diwarnai lumpur hitam, lahan basah bakau pun kotor, dan burung air serta reptil diselimuti minyak yang lengket. Diperkirakan 2.500 ton bahan bakar telah dipompa dari kapal yang kandas di terumbu karang di Pointe d'Esny yang juga menjadi cagar alam bagi satwa langka. Para pekerja berlomba mengosongkan kapal sebelum kapal itu rusak di laut dan semakin mencemari pantai.

Insiden ini bermula ketika dua pekan lalu kapal kargo MV Wakashio dilaporkan mengalami kebocoran bahan bakar. Kapal tersebut sebenarnya telah kandas sejak 25 Juli namun tak segera dikosongkan, hingga akhirnya retak setelah dihempas ombak dan menodai air bersih di kawasan laut yang dilindungi secara ekologis di lepas pantai tenggara.

Upaya menstabilkan kapal curah dan memompa 4.000 ton bahan bakar dari palka telah gagal, dan mendorong Perdana Menteri Pravind Jugnauth menyatakan "keadaan darurat lingkungan" lantaran minyak merembes tanpa henti dari celah di lambung kapal.

"Sangat penting untuk mengosongkan kapal sebelum rusak. Cukup banyak minyak yang telah dipompa keluar dalam beberapa hari terakhir tapi kami tidak bisa berhenti. Sudah ada begitu banyak kerusakan," ujar Jean Hugue Gardenne dari yayasan satwa liar Mauritian Wildlife Foundation.


"Kami telah menanam sekitar 200 ribu pohon asli untuk memulihkan hutan pesisir. Kami memperkenalkan kembali burung yang hampir punah, termasuk merpati merah muda, olive white-eye, dan ikan Mauritius yang terancam punah. Sekarang semua ini terancam (punah lagi) karena minyak merembes ke tanah dan terumbu karang," tambahnya.

Dilaporkan bahwa saat Mauritius mengumumkan situasi "darurat nasional", semua orang dari berbagai lapisan masyarakat ikut bertindak. Ribuan pelajar, aktivis lingkungan, dan penduduk setempat bahu-membahu mengurangi kerusakan pantai.

Sedangkan para relawan terlihat mengambil minyak dari pantai menggunakan ember dan mengekstraksi lumpur dengan sekop, serta mengisi barel minyak besar untuk membuang bahan bakar berat. Mereka juga telah mengumpulkan botol air plastik dan toples untuk membuat floating boom untuk mencoba memperlambat penyebaran minyak ke laguna dan pantai.

Selain itu, mereka juga terlihat terburu-buru menjahit kain, mengisinya dengan daun tebu dan jerami, serta menjaga floating boom tetap mengapung dengan botol plastik.

Kampanye daring pun telah dimulai dengan tagar #SovNouLagon dan #SaveMauritiusReef agar lebih banyak orang berpartisipasi dan menyumbangkan barang-barang penting yang dibutuhkan.

"Kami mulai melihat ikan mati dan hewan seperti kepiting tertutup minyak, kami mulai melihat burung laut tertutup minyak, termasuk beberapa (hewan lagi) yang tidak bisa diselamatkan," ujar direktur konservasi Mauritius Wildlife Foundation, Vikash Tatayah, kepada surat kabar lokal.

Hingga kini, media sosial masih dipenuhi oleh gambar hewan laut yang mati akibat tumpahan minyak dan relawan mengimbau orang-orang untuk turut membantu mereka.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts