Pemilu Selandia Baru Terancam Terganggu Akibat Kasus COVID-19 Kembali Melonjak
Getty Images
Dunia
Pandemi Virus Corona

PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, dilaporkan tengah meminta pertimbangan dari seluruh kelompok politik terkait nasib pemilu yang akan digelar pada 19 September mendatang.

WowKeren - Rencana pemilihan umum di Selandia Baru menjadi terganggu akibat kasus infeksi COVID-19 yang kembali melonjak. Kamis (13/8) waktu setempat, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dilaporkan tengah meminta pertimbangan dari seluruh kelompok politik terkait nasib pemilihan umum yang rencananya akan digelar pada 19 September mendatang.

"Pada saat ini terlalu dini jika membuat keputusan, tetapi hal ini artinya kita harus lentur dalam aturan," kata Ardern, sebagaimana dilansir dari CNN pada Jumat (14/8).

Menjelang pemilu, seharusnya parlemen Selandia Baru dibubarkan pada Rabu kemarin. Namun, Ardern menyatakan akan membuat keputusan pada Senin pekan depan melihat situasi yang berkembang.

Pemimpin Partai Nasional yang merupakan oposisi, Judith Collins, justru mengusulkan penundaan pemilu sampai November atau bahkan tahun depan. "Sangat sulit untuk berharap pemilu yang adil di saat partai oposisi tidak bebas berkampanye," kata Collins.

Angka infeksi virus corona (COVID-19) di Selandia Baru memang dilaporkan kembali bertambah menjadi 17 kasus. Direktur Jenderal Kesehatan mengatakan ada 13 kasus baru yang dikonfirmasi di Auckland. Semua kasus yang baru dilaporkan ada kaitannya dengan empat anggota keluarga yang terinfeksi virus corona. Salah satu diantaranya merupakan seorang siswa sekolah menengah.


Pemerintah Selandia Baru memberlakukan lockdown kota Auckland selama tiga hari mulai Rabu tengah hari. Kebijakan lockdown diputuskan untuk menemukan asal klaster dan meningkatkan pengetesan virus. Perdana Menteri Jacinda Ardern memperkirakan akan ada lebih banyak kasus yang terkait dengan lonjakan infeksi virus corona.

"Seperti yang kita semua pelajari dari pengalaman pertama kami dengan COVID-19, begitu Anda mengidentifikasi sebuah klaster, kasus klaster itu terus bertambah sebelum melambat," kata Ardern dalam pernyataan resmi.

Ardern juga mengatakan bahwa semua kasus COVID-19 sejauh ini berada dalam satu klaster terbatas di Auckland. "Anda bisa melihat keseriusan situasinya. Meskipun serius, ini ditangani dengan cara yang mendesak tetapi tenang dan metodis," ucapnya menambahkan.

Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru, Ashley Bloomfield, mengatakan pihaknya akan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk menelusuri sumber penularan virus. "Kami ingin mengetahui seberapa besar itu (virus menyebar) secepat mungkin, jadi kami sudah mulai menguji semua kontak dekat, kontak biasa, tempat kerja, terkait keluarga," katanya.

"Inilah yang ingin kami lakukan secepat mungkin untuk mengetahui seberapa luas wabah tu dan siapa kasus pertama yang mungkin terjadi," imbuh Bloomfield menambahkan.

Disebutkan pula bahwa perjalanan ke Auckland, di North Island, akan dibatasi kecuali bagi warga yang tinggal di sana. Ardern juga mengatakan wilayah-wilayah Selandia Baru lainnya memasuki level siaga 2, mulai Rabu siang selama tiga hari. Tingkat kesiagaan itu berarti aturan pembatasan sosial akan diterapkan kembali. Perdana Menteri wanita tersebut juga mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru belanja ke supermarket untuk menumpuk logistik dan bahan makanan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts