Heboh Keluarga di Surabaya 'Ngamuk' Jenazah Disebut Meninggal Karena COVID-19, RS Buka Suara
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

RS Muji Rahayu buka suara terkait viralnya sebuah video yang memperlihatkan penjemputan jenazah COVID-19 oleh keluarga di Surabaya yang berujung cekcok dengan pihak rumah sakit.

WowKeren - Sebuah video satu keluarga di Surabaya ingin menjemput keluarganya yang meninggal di rumah sakit menjadi viral di aplikasi percakapan. Penjemputan sempat berlangsung tegang karena rumah sakit berusaha melarang membawa jenazah karena berstatus probable atau PDP COVID-19.

Dalam video berdurasi 1 menit, tampak seorang perempuan marah-marah ke pihak rumah sakit. Perempuan dalam video itu tidak terima jika jenazah yang akan dibawa pulang dilarang rumah sakit karena dianggap sebagai pasien probable.

Tak hanya keluarga, puluhan warga juga tampak ikut mendatangi rumah sakit dan ingin menjemput jenazah tersebut. Sejumlah polisi tampak berjaga-jaga di sekitar rumah sakit yang diketahui berada di wilayah Kecamatan Tandes.

Menanggapi viralnya video tersebut, pihak RS Muji Rahayu akhirnya buka suara. Rumah sakit membantah bahwa pihaknya melakukan diagnosis pasien yang meninggal berdasarkan kemungkinan semata.

"Ya kemarin itu kan kondisinya memang sudah sesak napas. Ada riwayat pneumonia dari pemeriksaan sebelumnya di RS Al Irsyad," beber Humas RS Muji Rahayu Renti Dwi Widianing dilansir detikcom, Jumat (14/8). "Nah, dia baru masuk sekitar pukul 17.00 WIB sekitar 10 menit saat kami melakukan treatment itu meninggal. Dengan riwayat seperti itu kan sudah masuk PDP atau probable. Dan memang harus dilakukan prosedur protokol COVID untuk pemulasaran di rumah sakit."

Renti kemudian melanjutkan, saat akan dilakukan prosedur protokol COVID-19 keluarga kemudian tidak terima dan ingin memaksa pulang jenazah. Pihak keluarga saat itu berpatokan pada hasil rapid test nonreaktif sebelumnya di RS Al Irsyad.


"Keluarga pasien kan itu tidak terima. Karena anggapannya kok begitu masuk dianggap COVID. Ya tidak terima, dia mau ambil jenazahnya terus didatangkan massa," terangnya. "Ya itu yang bikin ramai, ya massa yang banyak itu didatangkan ke rumah sakit. Memang keluarga berpatokan pada rapid test yang nonreaktif. Tapi ada clue (petunjuk) dari pneumonia dan sesak napas."

Karena kondisi yang kian memanas, akhirnya polisi pun dihadirkan untuk mediasi. Hasilnya keluarga diperbolehkan membawa pulang jenazah tapi dengan catatan pemakaman harus dengan protokol dan ada persetujuan dari RT RW setempat.

"Dari pihak kami dan polisi akhirnya memberi jalan tengah. Kalau memang dari RW RT setempat mau menerima itu jenazah bisa diambil. Tadinya memang agak memaksa untuk memulangkan," tuturnya. "Kita kan tidak bisa melepas pasien dalam keadaan begitu. Ya nanti dikhawatirkan kemungkinan penularannya tinggi. Karena ada riwayat itu."

"Akhirnya diberikan setelah ada surat izin dari RW RT setempat dan ambulans mereka sendiri," lanjutnya. "Pemulangannya juga diiringi ke polisi sampai ke rumah."

Ia lantas menambahkan jika selama di RS Al Irsyad pasien sebenarnya sempat akan diisolasi dan harus menjalani rawat inap karena ada gejala mengarah ke COVID-19. Namun saat itu pihak keluarga tidak mau dan membawa pulang.

"Saya dengar di RS Irsyad itu sebelumnya mau diisolasi tapi sepertinya keluarga menolak atau apa saya tidak tahu. Akhirnya dibawa pulang. Jadi setelah 3 hari itu kemudian sesak lagi kambuh dan dibawa ke RS Muji Rahayu," tukasnya. "Jadi keluarga pasien itu memang sudah punya mindset bukan COVID. Dari awal juga kami tidak bilang itu bukan COVID, tapi masuk ke pasien dalam pengawasan."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts