Miris, Begini Cerita Pasien Positif Corona Sampai Ditolak 3 RS di Jakarta
AP Photo/Felipe Dana
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Seorang pasien positif COVID-19 'dilempar-lempar' ke beberapa rumah sakit kendati sudah mengantongi hasil tes swab. Hal ini bak menjadi cerminan betapa kurangnya kesiapan faskes Indonesia dalam mengatasi pandemi.

WowKeren - DKI Jakarta tengah menjadi episentrum baru wabah virus Corona dengan penyebaran yang luar biasa cepat. Situasi itu membuat tingkat keterisian ranjang rumah sakit alias occupancy rate begitu tinggi hingga menyebabkan beberapa pasien positif sampai ditolak oleh 3 fasilitas kesehatan sekaligus.

Hal itu diceritakan oleh Dinda, seorang karyawati swasta di Jakarta Selatan yang memusingkan nasib sang kakak, Aditya, lantaran tidak diterima di 3 rumah sakit sekaligus. Padahal Aditya saat ini sudah dinyatakan positif COVID-19 usai melakukan tes swab mandiri.

"Kakakku 54 tahun laki-laki, punya komorbid hipertensi sama diabetes tipe satu. Dia sempat menjenguk pasien COVID-19, karena dia merasa enggak enak badan maka dia memutuskan swab mandiri bersama istrinya," kata Dinda, Kamis (13/8).

Berbekal biaya tes Rp 2.050.000, Aditya terkonfirmasi positif COVID-19 pada Rabu (12/8) kemarin. Namun petugas rupanya hanya memberikan hasil tes swab tanpa penjelasan apapun.

Karena tak ada arahan apapun, Dinda pun berinisiatif mencari rumah sakit untuk merawat Aditya. "Kami putuskan pergi ke RS rujukan di Jakpus, sebab kami dengar RS rujukan di Jaktim sudah penuh," terang Dinda, dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (14/8).

Ia membawa sang kakak ke RSPAD Gatot Subroto, yang ternyata langsung menolaknya. IGD rumah sakit itu mengaku sedang dalam kondisi penuh sehingga tak lagi bisa menerima pasien, bahkan ketika kakaknya sudah dinyatakan positif.


"Kami bilang, 'Enggak bisa dok dilihat dulu keadaannya, dikasih resep obat atau vitamin, jika harus dirawat di rumah apa yang harus kami lakukan', tapi dokter menjawab tidak bisa begitu karena menyalahi SOP," tutur Dinda. "Katanya harus ada pemeriksaan menyeluruh, setelah itu jika harus dirawat maka RS harus merawat sementara di RSPAD enggak ada bed-nya."

Dokter lantas menyarankan mereka ke RS Persahabatan, yang kembali menolaknya. Mereka lantas menuju RS Pertamina Jaya, yang bahkan kali ini sudah mementahkan upaya sebelum Aditya sampai ke lobi IGD.

"Kami sampai di Pertamina Jaya pukul satu malam, tapi kami enggak tau prosesnya di Pertamina Jaya, wong masuknya saja sudah dicegat oleh sekuriti menanyakan surat rujukan, wah enggak ada, kami baru mau ke rumah sakit," terangnya. Sekuriti lantas menyarankan Dinda untuk mencari rujukan terlebih dahulu sebelum memasukkan Aditya ke RS Pertamina Jaya.

Dinda terus mencari RS yang berkenan menampung sang kakak namun hasilnya nihil. Kali ini petugas beralasan hasil swab bukan dari RS tersebut sehingga tak bisa ditangani.

Upaya pencarian rumah sakit pada malam itu dibatalkan, dan baru Kamis (13/8) pagi Aditya bisa dimasukkan ke RSUI tempat pertama kali ia menjalani swab test. Itu pun baru pukul 13.00 WIB RSUI memberikan kamar rawat untuk isolasi pasien COVID-19.

Dinda pun menyayangkan prosedur berbelit untuk bisa memasukkan pasien COVID-19. "Karena ini kami posisinya tidak terlalu sulit, dalam arti ada mobil, ada pulsa, jadi mungkin tidak sesulit warga lain yang butuh banget, bahkan kalau misalnya harus bayar layanannya pun mungkin masih sanggup. Tapi warga lain bagaimana, jadi ini harus diperjelas, alurnya bagaimana kalau ditolak di suatu tempat," keluhnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts