IDI Ungkap Kemungkinan Kasus COVID-19 Indonesia Tembus 200 Ribu Bulan Depan
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menurut Ketua Satuan Tugas Kesiapsiagaan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, kondisi penularan corona di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, pada pekan ini amat serius.

WowKeren - Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 132.816 pasien per Kamis (13/8). Menurut Ketua Satuan Tugas Kesiapsiagaan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, kondisi penularan corona di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, pada pekan ini amat serius.

Salah satunya karena adanya peningkatan rasio kasus positif COVID-19 (positivity rate) di DKI pada pekan lalu. Sebelumnya, positivity rate DKI berkisar antara 5,7 persen dua pekan lalu, namun angka tersebut baru-baru ini naik menjadi 8,7 persen.

"Kondisi sekarang untuk Indonesia terutama DKI Jakarta amat serius," ungkap Zubairi dilansir CNN Indonesia pada Jumat (14/8). "Karena pertama, positivity rate naik, dari 5 persen ke 8 persen, sementara untuk Indonesia 15,5 persen. Artinya tiap kali pemeriksaan ketemu positif lebih banyak dari sebelumnya."

Hal ini membuat Zubairi mewaspadai peningkatan kasus COVID-19 di September 2020 mendatang. Apalagi tambahan kasus corona berkisar 1.500 hingga 2 ribu kasus setiap harinya.

Zubairi menilai peningkatan kasus positif COVID-19 ini akan mempengaruhi bertambahnya pasien di rumah sakit. Padahal, tutur Zubairi, sudah banyak rumah sakit rujukan COVID-19 yang penuh.


"Kalau kenaikan dari hari ke hari di atas 1.500, ada kemungkinan sebulan lagi kasus mencapai 200 ribu lebih," ungkap Zubairi. "Nah apakah sekarang kita siap? Kalau sekarang saja sudah penuh (rumah sakit), ditambah dua kali ya bisa bayangkan beratnya masalah untuk bulan September nanti."

Oleh sebab itu, Zubairi menyarankan sejumlah langkah antisipasi yang dapat diambil pemerintah dalam menghadapi situasi terburuk. Yang pertama adalah menambah jumlah rumah sakit rujukan COVID-19, terutama di DKI Jakarta.

"Kalau memang penuh (di Jakarta), RS rujukan ditambah, dari 59 dikatakan jadi 100," kata penemu kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia tersebut. "Memang perlu antisipasi ini untuk bulan depan."

Yang kedua adalah menyiapkan sistem informasi antar rumah sakit rujukan untuk memudahkan proses perujukan antar rumah sakit. Dengan demikian, penanganan pasien diharapkan dapat dilakukan lebih cepat.

"Membuat sistem informasi antar RS rujukan harus lebih jelas supaya pasien tidak mencari-cari RS rujukan, padahal ada yang kosong," pungkas Zubairi. "Penanganan juga lebih cepat."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts