Studi terbaru menunjukkan bahwa pasien sembuh COVID-19 bisa mengembangkan antibodi yang bertahan sampai setidaknya 3 bulan. Temuan ini memunculkan harapan bahwa antibodi bisa bertahan sampai tahunan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 20 Agustus 2020 - 10:06 WIB
WowKeren - Perihal antibodi yang dihasilkan oleh pasien sembuh COVID-19 masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti. Sebab banyak yang menyebut penyintas COVID-19 tak bisa mengembangkan antibodi yang efektif melindungi dari infeksi virus Corona.
Namun dalam sebuah hasil studi baru yang dipublikasikan pada Minggu (16/8) kemarin, terungkap bahwa antibodi dari penyintas Corona bisa bertahan selama setidaknya 3 bulan. Memang tidak semua penyintas akan mengembangkan antibodi tersebut, namun setidaknya bagi mereka yang berhasil memiliki antibodi secara alami akan bertahan selama 3 bulan.
Studi ini dipublikasikan oleh tim peneliti dari University of Arizona. Mereka melakukan analisis antibodi pada 5.882 pasien COVID-19 dan mendapati hasil yang baik, bahkan untuk pasien dengan gejala ringan.
"Bukan berarti kekebalan akan hilang begitu saja setelah tiga bulan," ujar peneliti sekaligus associate professor bidang immunobiologi dari University of Arizona, Deepta Bhattacharya, seperti dilansir dari SputnikNews. Bahkan Bhattacharya meyakini bahwa kekebalan terhadap SARS-CoV-2 akan berlangsung selama beberapa tahun sebagaimana infeksi SARS-CoV-1.
"Dari kacamata vaksin, temuan ini menetapkan parameter mengenai apa yang kita mungkin bisa lakukan," kata Bhattacharya. "Bahwa virus ini bisa dibersihkan dan Anda bisa mendapatkan imunitas untuk melawannya."
Bhattacharya menambahkan memang tidak semua vaksin bisa bekerja dengan sangat efektif. Namun temuan baru ini menunjukkan bahwa pengembangan vaksin untuk melawan COVID-19 adalah hal yang sangat mungkin diwujudkan.
Terkait dengan kekebalannya, dari jurnal tersebut terungkap pasien sembuh akan menghasilkan antibodi IgG spesifik terhadap SARS-CoV-2. Tubuh pasien juga akan memiliki plasma penetral dan memori virus yang spesifik pada sel B dan sel T.
Namun studi terkait kekebalan tubuh pasien sembuh COVID-19 memang masih terus bergulir. Sebab belum banyak literatur ilmiah terkait bagaimana kekebalan terhadap COVID-19 bisa dicapai dan dipertahankan, sehingga belum diketahui pula secara pasti berapa lama pasien sembuh bisa terlindungi dari risiko infeksi.
"Apakah akan terlindungi dalam hitungan bulan, sama seperti infeksi virus Corona lainnya. Atau mungkin (bisa jadi) lebih lama," jelas Kepala Penyakit Infeksi Anak dan Associate Professor dari Departemen Kedokteran Anak di University of California, Dean Blumberg.
(wk/elva)