Heboh Uji Vaksin Inggris Dihentikan Karena Timbulkan 'Efek Samping', RI Soroti Relawan Sinovac
Nasional
Vaksin COVID-19

Heboh 'penyakit aneh' yang ditimbulkan oleh vaksin buatan Oxford dengan AstraZeneca menimbulkan kekhawatiran terkait kondisi para relawan yang terlibat dalam uji klinis vaksin Tiongkok Sinovac.

WowKeren - Inggris memutuskan untuk menunda uji coba lanjutan vaksin COVID-19 buatan Universitas Oxford bersama dengan AstraZeneca yang harusnya dilaksanakan dalam waktu dekat. Pasalnya, relawan yang berpartisipasi dalam uji klinis tersebut merasakan efek samping berupa "penyakit aneh".

Hal ini kemudian membuat sejumlah pihak turut menyoroti kondisi relawan vaksin Sinovac yang merupakan buatan Tiongkok. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Kusnandi Rusmil mengatakan, sebanyak 450 relawan telah mendapatkan penyuntikan vaksin tersebut.

Namun, para relawan uji klinis vaksin corona itu tidak menunjukkan masalah kesehatan seperti yang dikhawatirkan. "Sampai sekarang yang sudah disuntik vaksin ada 450 orang, 200 sudah mau suntikan kedua dan 250 baru suntikan pertama," ujar Kusnandi di Rumah Sakit Pendidikan (RSP), Unpad, Bandung, Rabu (9/9). "Sampai sekarang belum ada yang masuk rumah sakit atau gimana, semua biasa-biasa aja."

Menurutnya, reaksi yang ditimbulkan vaksin Sinovac terhadap relawan sama seperti imunisasi pada umumnya. Seperti pada awal penyuntikan, terasa nyeri di tempat suntikan selama beberapa saat. Namun nyeri itu kemudian akan hilang dalam waktu cepat.

"Paling-paling keluhannya demam sedikit, kemudian nyeri dalam dua hari kemudian hilang sendiri," ungkapnya. "Sama seperti kita menyuntik vaksin di Puskesmas saja. Kalau ada yang demam dikasih paracetamol."


Kusnandi menerangkan setiap relawan yang disuntik vaksin COVID-19 akan dilihat perkembangannya. Salah satunya memeriksa apakah relawan mengalami alergi atau tidak.

"Kita kan selalu ngikutin, habis disuntik 30 menit pertama kita lihat ada alergi atau tidak. Lalu ada bengkak atau tidak," jelasnya. "Terus kalau sudah pulang dihubungi lagi pakai telepon selama dua hari berturut-turut ditanya bagaimana bagus. Kemudian 14 hari lagi mereka datang untuk penyuntikan kedua."

Sebelumnya diketahui bahwa uji klinis vaksin Sinovac telah dilakukan di Bandung sejak bulan Agustus lalu. Uji klinis itu melibatkan 1.620 relawan dengan rentang usia antara 18 hingga 59 tahun yang dilakukan di enam lokasi, yakni RSP Unpad, Balai Kesehatan Unpad Dipatiukur, Puskesmas Garuda, Puskesmas Sukapakir, Puskesmas Dago, dan Puskesmas Ciumbuleuit.

Selain berdomisili di Bandung, calon relawan juga harus dinyatakan lolos verifikasi kesehatan fisik dan tidak terpapar COVID-19. Adapun penyuntikan uji klinis vaksin COVID-19 di antara para relawan dilakukan secara acak dan rahasia.

Ada yang diberikan vaksin atau plasebo. Tidak diketahui apakah mereka mendapat cairan vaksin yang sedang diuji klinis fase III itu atau hanya plasebo sebagai alat kontrol.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts