Kian Mengkhawatirkan, Epidemiolog Ungkap Sebab Kasus COVID-19 di Indonesia Tak Kunjung Usai
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kendati sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah, namun tetap saja kasus ini belum mau menunjukkan tanda-tanda segera turun

WowKeren - Alih-alih menurun, perkembangan kasus corona di Indonesia kian mengkhawatirkan. Hal ini pun membuat publik resah lantaran pandemi tak hanya memukul sektor kesehatan namun juga telah sedikit banyak berdampak pada kehidupan masyarakat, terutama sektor ekonomi yang kian terpuruk.

Penambahan kasus harian bahkan menyentuh angka 3.000. Kendati sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah, namun tetap saja kasus ini belum mau menunjukkan tanda-tanda segera turun.

Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Iwan Ariawan mengungkap faktor penting mengapa kasus corona di RI tak kunjung membaik. Pada dasarnya, perkembangan kasus corona mengikuti pergerakan dan kerumunan orang.

Sehingga semakin masif pergerakan orang dan banyak kerumunan maka akan menjadi lahan penularan yang subur bagi virus ini. Saat PSBB diberlakukan, kerumunan menjadi berkurang sehingga kasus bisa diturunkan.

Namun ketika PSBB sudah mulai dilonggarkan, maka risiko penularan akan kembali tinggi. Terutama jika langkah ini tidak dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.


"Pada saat PSBB ketat, penularan dapat dicegah dengan berkurangnya pergerakan dan kerumunan orang," ujar Iwan dilansir KumparanSAINS, Sabtu (12/9). "Namun setelah PSBB dilonggarkan, seharusnya protokol kesehatan dilakukan dengan cakupan tinggi, hingga 85 persen."

Selain protokol kesehatan, langkah untuk menggencarkan 3T (testing, tracing, treatment) juga memainkan peranan yang penting. Tes-lacak-isolasi harus dilakukan dengan ketat untuk bisa benar-benar menekan kasus ini.

"Analisis kami menunjukkan, PSBB bermanfaat untuk mengurangi penularan COVID-19," lanjut Iwan. "Tetapi protokol kesehatan dan tes-lacak-isolasi tidak terlihat manfaatnya karena cakupan masih rendah dan tidak dilakukan secara konsisten."

Hal ini diperparah dengan literasi masyarakat yang masih rendah tentang bahaya virus corona. Tak sedikit dari mereka yang dengan kepercayaan diri teramat tinggi alias takabur, yakin tidak akan tertular virus.

"Strategi komunikasi harus sesuai dengan kelompok masyarakat sasarannya," kata dia melanjutkan. "Pesan yang disampaikan oleh para aparat harus sejalan."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts