Waspada! Peneliti Temukan Kemungkinan COVID-19 Serang Otak Manusia
Health
Pandemi Virus Corona

Dalam jurnal berjudul 'Neuroinvasion of SARS-CoV-2 in human and mouse brain' yang diterbitkan oleh BioRxiv ditemukan jika virus corona dapat menyerang dan mengeksploitasi sel otak (neuron) secara langsung.

WowKeren - Penelitian dilakukan terus menerus secara berkala untuk mempelajari virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19. Selama ini diketahui jika virus corona menyerang saluran pernapasan.

Namun, seiring berjalannya penelitian dari berbagai negara ditemukan pula bahwa virus ini juga bisa menyebar hingga ke hati, ginjal, dan bahkan pembuluh darah. Akibatnya, gejala COVID-19 pun semakin meluas dan sulit ditebak.

Baru-baru ini, studi terbaru yang menemukan bahwa virus tersebut juga menyerang dan mengeksploitasi sel otak (neuron) secara langsung. Hal ini ditemukan oleh penelitian yang diterbitkan oleh BioRxiv berjudul "Neuroinvasion of SARS-CoV-2 in human and mouse brain" pada Selasa (8/9) lalu.

Penelitian tersebut mengamati aktivitas virus pada tiga model eksperimen. Mulai dari organoid (otak buatan yang mirip aslinya), otak pasien COVID-19 yang telah meninggal, serta otak tikus yang terinfeksi penyakit tersebut.

Virus diketahui dapat memasuki neuron melalui reseptor ACE2 yang merupakan jalur infeksi di saluran pernapasan. Setelah menyerang sel otak, virus tampak menguasai dan menggandakan dirinya.

SARS-CoV-2 kemudian membuat perubahan metabolisme sel yang diinfeksi sehingga virus tersebut "mencuri" oksigen dari sel di sekitarnya. Mereka pun mati karena tidak memiliki oksigen yang cukup untuk beraktivitas.

Pada hewan pengerat, virus ini membuat mereka mengalami penurunan berat badan yang drastis selama 6 hari. Hewan pengerat tersebut juga mengalami infeksi otak yang mengubah susunan pembuluh darah secara drastis.


Dilansir LiveScience, peneliti masih tidak yakin apakah virus juga menghabiskan oksigen di sel otak. Namun, pada korteks serebral, tampak ada garis-garis kecil yang menandakan bahwa hal itu terjadi.

Tak seperti yang diperkirakan peneliti, sel-sel imun tidak membanjiri bagian otak yang diinfeksi oleh virus. Mereka mengatakan bahwa invasi tersebut kemungkinan lolos dari jangkauan sistem imun.

Padahal, pada patogen lain yang menyerang otak, seperti virus Zika, sel imun langsung membanjiri area yang diserang. Mereka berusaha untuk menghancurkan virus dan sel yang terinfeksi.

Ketika imun tidak datang untuk menyelamatkan, ini berarti bahwa virus lebih sulit untuk diusir dari sel otak. Salah satu peneliti yang bernama Dr. Iwasaki, mengatakan bahwa hal ini kemungkinan besar akan menyebabkan peradangan otak yang parah.

Dilansir New York Times, Dr. Robert Stevens, ahli neurologis dari Johns Hopkins University mengatakan bahwa setidaknya 60 persen pasien COVID-19 menunjukkan gejala neurologis dan psikiatris. Termasuk di antaranya ensefalopati (kelainan struktur otak), psikosis, stroke, demensia, hingga sejumlah gangguan mental.

Meski begitu, tidak semua gejala neurologis dan psikiatris disebabkan oleh invasi virus secara langsung pada sel otak. Sebelumnya sempat ditemukan pula bahwa COVID-19 menyebabkan peradangan yang bisa menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak. Organ tersebut tidak diserang secara langsung.

Sayangnya, dalam aporan studi, peneliti tidak menyebutkan gejala apa saja yang ditimbulkan akibat infeksi SARS-CoV-2 pada sel otak. Namun, kondisi yang paling mungkin terjadi akibat fenomena ini adalah peradangan otak yang cukup parah. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah kebingungan, sakit kepala, atau delirium (gangguan kondisi mental).

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts