WHO Wajibkan Negara-Negara di Dunia Gabung Proyek Vaksin COVAX untuk Lawan COVID-19
AFP
Health
Vaksin COVID-19

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sejauh ini 92 negara berpenghasilan rendah sedang mencari bantuan melalui fasilitas COVAX.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengharuskan negara-negara di seluruh dunia agar bergabung dengan fasilitas vaksin COVAX pada batas waktu Jumat (18/9). Hal ini untuk membantu memastikan bahwa imunisasi didistribusikan secara adil dan efisien.

COVAX sendiri dibentuk awal tahun ini oleh WHO untuk menyatukan upaya negara-negara anggota guna menjamin kesetaraan akses global terhadap vaksin COVID-19.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sejauh ini 92 negara berpenghasilan rendah sedang mencari bantuan melalui fasilitas COVAX. Fasilitas ini merupakan bagian dari Akselerator ACT WHO untuk mendorong pengembangan vaksin, terapi, dan diagnostik untuk memerangi pandemi.

Sejauh ini sekitar 80 negara berpenghasilan tinggi telah menyatakan minatnya. Namun, banyak yang masih harus mengonfirmasi niat mereka untuk bergabung pada akhir minggu ini.

"Jika orang-orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah kehilangan vaksin, virus akan terus membunuh dan pemulihan ekonomi global akan tertunda," kata Tedros pada acara regional WHO untuk Eropa yang disiarkan secara virtual, sebagaimana dikutip dari Republika.


Sedangkan Organisasi PBB untuk Dana Kesejahteraan Anak-anak, UNICEF, mengumumkan akan membantu memimpin upaya pengadaan dan pendistribusian COVAX. Peran UNICEF adalah bagian dari rencana alokasi COVAX untuk membeli dan memberikan akses yang adil bagi orang-orang dalam mendapatkan suntikan vaksin.

UNICEF mengatakan 28 produsen vaksin telah membagikan rencana produksi tahunan mereka untuk vaksin COVID-19 hingga 2023. Penilaian pasar yang dilakukan UNICEF mengungkapkan bahwa produsen bersedia secara kolektif memproduksi vaksin dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya selama satu hingga dua tahun mendatang.

Akan tetapi, para perusahaan pembuat obat telah mengisyaratkan bahwa proyeksi tersebut sangat bergantung pada, antara lain, apakah uji klinis berhasil, perjanjian pembelian dilakukan lebih dini, pendanaan dikonfirmasi, dan jalur regulasi dan pendaftaran disederhanakan. Vaksin yang aman dan efektif dipandang penting untuk mengakhiri pandemi COVID-19, yang sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 29 juta orang di seluruh dunia.

Peran baru UNICEF dengan COVAX berasal dari statusnya sebagai pembeli vaksin tunggal terbesar di dunia. Organisasi PBB tersebut mengatakan, pihaknya memperoleh lebih dari dua miliar dosis vaksin setiap tahun untuk imunisasi rutin dan penanganan wabah mewakili hampir 100 negara.

Terlepas dari hal tersebut, program covax gagasan WHO ini menggaet sejumlah negara besar untuk bergabung. Sejumlah negara maju menyatakan setuju untuk turut berpartisipasi dalam program ini, kecuali Amerika Serikat yang bersikukuh menolak untuk bergabung.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts