Mirip HIV/AIDS, Virus Corona Juga Berpotensi Serang Antibodi
Health
COVID-19 di Indonesia

Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Chaerul Anwar Nidom mengungkap, mutasi virus corona SARS-CoV-2 memiliki pola genetik yang mirip dengan penyebab HIV/AIDS yang menyerang antibodi.

WowKeren - Para peliti dari sejumlah negara di dunia terus menerus melakukan penelitian terhadap virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19. Hal ini dilakukan demi mengetahui sifat virus dan efek yang ditimbulkannya.

Baru-baru ini, para ahli menyebutkan jika virus corona berpotensi untuk menyerang antibodi dan membuat COVID-19 menjadi penyakit kronis tanpa gejala seperti HIV. Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Chaerul Anwar Nidom mengatakan jika virus corona SARS-CoV-2 memiliki pola genetik tertentu yang berpotensi menimbulkan fenomena ADE (antibody-dependent Enhancement).

"Virus ADE ini bisa melawan antibodi yang ada dalam tubuh," kata Nidom dilansir CNNIndonesia, Kamis (17/9). Nidom menyebut perkiraan potensi ini berdasarkan pengamatan susunan asam amino virus corona yang ada di Indonesia. Susunan ini memiliki pola efek ADE.

"(Potensi) itu empiris dari data virus yang memilki ADE, kemudian kita analogikan jika terjadi pada Covid," lanjutnya. "Karena semua virus di indonesia tidak satu pun yang tidak memiliki struktur ADE."

Perlu diketahui, ADE adalah fenomena dimana virus berikatan dengan antibodi untuk menginfeksi sel inang. Potensi terjadinya fenomena ADE ini bisa dilihat dari pola tertentu dari susunan DNA/RNA virus.

Sebelumnya, virus corona menginfeksi sel lewat reseptor ACE2 yang ada di paru-paru. Tapi dengan fenomena ADE, maka sel akan masuk ke sel lewat makrofag.


"Sehingga, virus berkembang di sel mikrofag (sel darah putih) bukan di sel saluran pernafasan lagi," terangnya. "Akibatnya virus berkembang di makrofag dan merusak sel makrofag, seperti cara kerja HIV. Kemudian baru masuk ke paru dan organ lainnya."

Titik masuk COVID-19 nantinya akan bisa masuk bukan dari resptor ACE2 yang menjadi target vaksin. Lewat gambar, Nidom menjelaskan bagaimana virus dengan pola ADE berikatan dengan antibodi dan masuk ke dalam mikrofag, bereplikasi, dan bermutasi.

Model ini mengikuti pola penyakit HIV yang masuk ke inang lewat makrofag, bukan ke sel. Fenomena ADE sendiri sudah terjadi pada penyakit lain. "Virus COVID-19 punya susunan ADE di mana ADE ini mempunyai efek seperti yang ada di SARS, MERS, Demam Berdarah, HIV, Ebola, dan Zika," sambungnya.

Kini, pola ADE ini ditemukan dalam mutasi virus corona D614G yang kini menyebar di Indonesia. ADE ini menyebabkan antibodi tidak efektif menetralisir virus yang dituju.

Nidom juga mengatakan apabila benar COVID-19 bisa masuk ke makrofag, maka penyakit COVID-19 akan menjadi sebuah penyakit kronis yang terjadi dalam jangka waktu lama, seperti HIV. "Maka si pasien tak menunjukkan gejala klinis...tapi akan menjadi kronis lama, seperti yang terjadi di HIV karena sistem imun korban terganggu akibat pembelokan titik reseptor" jelasnya.

Gejala klinis yang dimaksud adalah gejala gangguan kesehatan seperti yang belakangan kerap disebut menjadi gejala Covid-19. Beberapa gejala itu mirip dengan gejala influenza seperti demam, batuk, dan pilek. Selain itu, akibat infeksi sel paru-paru, penyakit ini juga menyebabkan gejala pneumonia seperti sesak napas.

Apabila potensi ADE pada virus ini benar terjadi, maka orang yang terinfeksi tidak akan mengalami gejala di atas. Saat ini, fenomena orang yang terinfeksi dan tanpa gejala disebut OTG.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts