Pandemi COVID-19 Disebut Picu Diskriminasi di Asia, Kok Bisa?
Getty Images
Dunia
Pandemi Virus Corona

Hal ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah pada 5.000 responden di empat negara.

WowKeren - Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperingatkan kekhawatiran terhadap terciptanya diskriminasi di kawasan Asia. Hal ini sebagai imbas dari berkembangnya pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi orang-orang di seluruh dunia.

IFRC menyebut diskriminasi bisa terjadi terhadap komunitas yang rentan di Asia, termasuk migran dan orang asing. Adapun kesimpulan itu diambil berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 5.000 responden di empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Pakistan.

Setengah dari responden menganggap kelompok tertentu bertanggung jawab terhadap penyebaran virus corona ini. Adapun kelompok yang dimaksud adalah orang-orang Tiongkok, orang asing, dan imigran.

"Hal ini terutama mengkhawatirkan," kata Dr Viviane Fluck, salah satu peneliti utama dan koordinator keterlibatan dan akuntabilitas komunitas Asia Pasifik dari badan tersebut seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (19/9). "Bahwa baik pekerja migran nasional maupun pekerja asing disalahkan atas penyebaran COVID-19 karena mereka sudah cukup rentan."


Ia mengatakan jika harus ada lebih banyak fokus untuk memerangi "rumor yang terkait dengan dinamika kekuasaan yang mendasari dan masalah struktural ketimpangan". Di Indonesia, lebih dari setengah responden menyalahkan orang asing dan mereka yang melanggar aturan.

Sementara itu, survei di Myanmar menunjukkan jika orang-orang yang datang dari Tiongkok dan orang asing lainnya paling sering dianggap bertanggung jawab menyebarkan virus ini. Lalu di Malaysia, dua pertiga responden menyalahkan kelompok tertentu, yang paling sering menyebut migran, turis asing, dan orang asing ilegal."

Pihak berwenang Malaysia telah menangkapi ratusan migran dan pengungsi yang tidak memiliki dokumen resmi pada Mei. Yang mana menurut PBB, hal ini justru bisa mendorong kelompok-kelompok rentan bersembunyi dan membuat mereka sulit mencari pengobatan. Sementara itu, polisi mengklaim jika operasi tersebut dilakukan untuk mencegah orang bepergian di tengah pembatasan sosial.

Berbeda dengan responden di Pakistan, mayoritas responden di sana justru menyalahkan kontrol pemerintah yang tidak memadai di perbatasan Iran. Sebagian lainnya menyalahkan warga negara termasuk peziarah yang kembali dari Iran dan kemudian orang-orang dari Tiongkok.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts