UEA Klaim Normalisasi dengan Israel Dilakukan untuk Bantu Palestina
Dunia

UEA menyebut normalisasi dengan Israel tak hanya untuk kepentingan dalam negeri, melainkan juga menjadi jalan menuju Timur Tengah yang modern, di mana Palestina juga diakui keberadaannya.

WowKeren - Menteri Negara Hubungan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, meminta Palestina untuk tidak memandang sebelah mata normalisasi hubungan dengan Israel. Pasalnya, Gargash mengklaim bahwa normalisasi hubungan diplomatik pihaknya dengan Israel justru dapat membantu kedaulatan Palestina.

Gargash mengatakan, perjanjian Abraham Accord yang disetujui baru-baru ini tak hanya demi kepentingan UEA dan Israel. Ia mengakui kalau kesepakatan itu memang mengkaji kerja sama kedua belah pihak dalam bidang diplomasi, ekonomi dan kebudayaan. Namun pihaknya memandang optimistis bahwa Abraham Accord akan menjadi jalan menuju Timur Tengah yang modern, di mana Palestina juga diakui keberadaannya.

"Ini akan menjadi perdamaian yang sangat, sangat hangat. Akan ada hubungan diplomasi yang normal antarnegara Timur Tengah. Kami sudah izinkan diplomat UEA bertemu dengan diplomat Israel," ujar Gargash.

Gargash berdalih bahwa kesepakatan dengan Israel seolah-olah mendobrak tabu bahwa negara Arab tak boleh berhubungan dengan entitas Zionis itu. Bagaimanapun, UEA tetap pada posisi mendukung Israel-Palestina sebagai dua negara yang berbeda. Ia menyarankan agar komunikasi ditingkatkan antarkedua belah pihak itu.

"Dari sudut pandang kami, (Palestina) akan mengetahui bahwa UEA melalui metode diplomasi baru dalam hubungan ini (dengan Israel) akan bisa membantu mereka lebih banyak," klaim Gargash.

Walau demikian, Gargash menekankan solusi Israel-Palestina tak bisa muncul jika keduanya tak benar-benar duduk bersama. "Sangat penting bahwa Palestina benar-benar terlibat (dalam upaya perdamaian)," paparnya.


Komentar Gargash ini muncul saat upacara penandatanganan Abraham Accord antara Bahrain, UEA dan Israel di Gedung Putih, Amerika Serikat, pada Selasa (15/9) waktu setempat.

Perjanjian itu ditandatangani oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri Bahrain serta Menteri Luar Negeri UEA. Seremoni di halaman Gedung Putih dihadiri ratusan orang, namun tidak ada jabat tangan karena kekhawatiran penularan COVID-19.

Pemerintahan Presiden Donald Trump mengatur perjanjian bersejarah itu pada bulan lalu menjelang pemilihan umum AS. Trump mengatakan perjanjian itu akan menjadi dasar perdamaian komprehensif di Timur Tengah. Presiden dari Partai Republik itu juga mengatakan bahwa perjanjian damai antara Israel, UEA, dan Bahrain itu akan mengakhiri konflik dan perpecahan di kawasan Timur Tengah.

"Berkat keberanian para pemimpin dari ketiga negara ini, kami mengambil langkah besar menuju masa depan di mana orang-orang dari semua agama dan latar belakang hidup bersama dalam damai dan kemakmuran," kata Trump.

Bahrain menjadi negara Arab keempat yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel setelah Mesir pada 1979, Yordania pada 1994, dan UEA pada Agustus 2020.

Kesepakatan normalisasi itu menuai kecaman publik Palestina. Mereka menyebut kesepakatan tidak mengakomodir kepentingan Palestina dan mengabaikan hak-hak mereka.

Otoritas Palestina mengatakan setiap kesepakatan dengan Israel harus didasarkan pada Prakarsa Perdamaian Arab tahun 2002 dengan prinsip "tanah untuk perdamaian" dan bukan "perdamaian untuk perdamaian" seperti yang dipertahankan Israel.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts