Kisah Relawan Pemakaman Jenazah Corona yang Meninggal Akibat COVID-19
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Sri Mulyono yang bertugas di Dalmas Direktorat Samapta Polda DI Yogyakarta tersebut meninggal dunia di usia 43 tahun usai dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.

WowKeren - Seorang anggota polisi yang menjadi relawan pemakaman pasien virus corona (COVID-19), Aiptu Sri Mulyono, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (20/9). Mulyono yang bertugas di Dalmas Direktorat Samapta Polda DI Yogyakarta itu meninggal di usia 43 tahun usai dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.

Menurut Dansat Brimob Polda DI Yogyakarta, Kombes Pol Imam Suhadi, mendiang Mulyono dinyatakan positif COVID-19 sekitar 4-5 hari sebelum tutup usia. Anggota keluarga Mulyono juga disebut turut terpapar.

"Iya positif COVID-19, terakhir kan di rumah sakit, pakai ventilator itu," terang Imam pada Rabu (23/9). "Kebetulan keluarganya, anak, istrinya juga kena sekarang dirawat di rumah sakit."

Imam sendiri merupakan pimpinan Mulyono selama ia bertugas di Tim Detasemen Gegana Unit Kimia Biologi dan Radioaktif (KBR) Sat Brimob Polda DI Yogyakarta. Mulyono sendiri memutuskan untuk menjadi relawan pemakaman bersama relawan-relawan lain di Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 DI Yogyakarta sejak Maret hingga Juni.

"Dia kan setelah jadi relawan positifnya.Tepatnya dokter yang tahu (soal informasi tertular dari keluarga), soalnya kemarin beliaunya istirahat sudah tidak di Satgas malah kena COVID-19," ungkap Imam. "Tapi kadang masih bantu jadi relawan."


Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa Mulyono dimutasi dari Brimob ke polisi umum di Sabhara sekitar sebulan yang lalu. Adapun mutasi tersebut merupakan kebijakan agar anggota yang berusia di atas 35 tahun dapat beristirahat. Menurut Imam, mendiang Mulyono merupakan sosol yang sangat berdedikasi.

"Beliau luar biasa dedikasi sama kesatuan luar biasa. Bahkan terlalu baik pada masyarakat. Sehingga kadang-kadang tidak lihat kondisi badan," terangnya. "Sempat saya istirahatkan saya pindahkan ke Sabhara sama Samapta."

Mendiang Mulyono juga disebut ikhlas menjalankan tugas dan selalu menolak jika diberi imbalan dari masyarakat. "Kalau nyemprot (disinfektan) di pertokoan, hotel kan kadang ada yang ngasih uang rokok, beliau tidak mau. Luar biasa dedikasi beliau," ujar Imam.

Sementara itu, Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY, Wahyu Pristiawan Buntoro, mengungkapkan bahwa mendiang tak segan membagikan ilmunya kepada relawan lainnya seperti soal kimia, biologi, radiasi. Menurut Pristiawan, Mulyono juga ikut merancang sistem dekontaminasi agar para relawan aman dari paparan virus dan bahan berbahaya lain yang masih digunakan sampai sekarang. "Itu semua ilmunya dari beliau," tutur Imam.

Kepergian Mulyono lantas meninggalkan banyak duka, terutama bagi para rekan-rekannya. Jenazah Mulyono pun telah dikuburkan oleh rekan-rekan sesama relawannya sendiri.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts