'Masa Bodoh' Dengan Corona, Warga Jepang Tetap Berlibur Saat Long Weekend
Dunia
Pandemi Virus Corona

Jepang mengalami lonjakan pengunjung di berbagai spot wisata saat long weekend. Sayangnya, para pengunjung tersebut kerap acuh pada protokol kesehatan yang dapat memicu munculnya klaster baru COVID-19.

WowKeren - Pemerintah Jepang meminta agar masyarakat tetap di rumah dan meminimalisir kegiatan di luar demi menekan penyebaran virus corona (COVID-19). Pengumuman tersebut disampaikan pada saat Jepang mengumumkan status darurat dan terjadi kenaikan angka kasus baru COVID-19.

Sayangnya, larangan tersebut saat ini sudah tak berlaku lagi. Pasalnya, orang-orang Jepang tetap pergi berlibur pada saat long weekend yang terjadi karena Hari Penghormatan Lansia dan Hari Ekuinoks Musim Gugur jatuh pada Senin dan Selasa lalu.

Menurut laporan media lokal, setidaknya ada 249,1% kenaikkan pengunjung di Arashiyama di Kyoto, dan naiknya angka pengunjung di spot wisata seperti Hakone di Kanagawa (109,4%), Atami Onsen di Shizuoka (57,6 persen), dan Otaru di Hokkaido (54,2%). Kemacetan juga terjadi di dekat berbagai spot turis, terutama di kota-kota onsen, seperti di Jozankei, kota Onsen di dekat Sapporo, Hokkaido.

Bahkan lokasi wisata Gunung Fuji di yang memiliki pemandian air panas dipenuhi oleh antrean panjang. Keadaan serupa terjadi di Universal Studios Japan di Osaka. Bahkan, pengunjung yang datang sangat banyak hingga theme park ini membatasi jumlah pengunjung yang masuk, membuat para pengunjung harus menunggu selama 2 jam lebih untuk bisa masuk.


Photo-INFO

Twitter

Tak hanya itu, spot hiking seperti Gunung Takao juga dipadati dengan antrean mengular dari para pendaki. Tak sampai di situ, wilayah perkemahan di Raichosawa Camping Ground di Tateyama di Prefektur Toyama pun ikut dipadati pengunjung. Bahkan terjadi antrean memanjang dari para pengunjung yang ingin ke toilet.

Perlu diketahui, kasus COVID-19 di Jepang sendiri telah mengalami penurunan hingga di bawah 500. Namun, bukan berarti virus mematikan ini hilang. Hal ini tentu menimbulkan kekhatiran akan munculnya klaster baru COVID-19.

“Rasanya seram melihat angka kasus baru dua minggu yang akan datang…" komentar netizen. “Tidak ada rasa krisis di negara ini hanya karena angka kasus COVID-19 di sini lebih rendah dibanding negara lain,” ujar netizen lainnya.

Tak sedikit dari netizen yang khawatir desakkan pengunjung yang mengabaikan protokol social distancing bisa memunculkan kasus-kasus baru COVID-19. Namun, tak sedikit yang menilai jika lonjakan pengunjung di kawasan wisata bisa meningkatkan perekonomian Negeri Matahari Terbit tersebut.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts