Dulu Sangat Kagum, Tersangka Penusukan Syekh Ali Jaber Berubah Benci Gara-Gara Ini
Nasional

Tersangka penusukan Syekh Ali Jaber mengaku nekat melakukan aksinya terdorong oleh rasa benci. Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai sosok yang sangat kagum pada sang pendakwah.

WowKeren - Aksi Alpin Andrian (24) beberapa waktu lalu sukses menyita perhatian publik nasional. Pasalnya Alpin menyerang pendakwah kondang Syekh Ali Jaber dengan pisau dapur, sebuah aksi yang sempat dikaitkan dengan kondisi kejiwaan hingga kelompok teroris tertentu.

Terkait dengan kondisi kejiwaan Alpin, Ken Setiawan selaku pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, menilai sang tersangka mampu berbicara dengan lancar. Hal ini terungkap dalam dialognya bersama Alpin belum lama ini, yang ternyata turut mengungkap motif di balik kebencian yang menjadi latar belakang Alpin nekat menusukkan pisau tersebut ke tubuh Syekh Ali Jaber.

"Ada motif yang mungkin belum di-sharing ke media," tutur Ken, Selasa (22/9). "(Karena) jauh sebelum terkenal, Alpin itu sosok yang mengagumi Ali Jaber."

Disampaikan Ken, rupanya sejak sebelum Syekh Ali Jaber menjadi seorang pendakwah yang "laris manis" di Indonesia, Alpin sudah sering mengikuti ceramah yang disampaikan. "Dia sempat menonton tayangan-tayangan Ali Jaber, sebelum tenar," cerita Ken, dikutip dari Tribun News, Kamis (24/9).


Namun lambat laun Alpin malah terpengaruh oleh media sosial, terutama dari tayangan yang menyudutkan Timur Tengah, sampai ikut membenci Syekh Ali Jaber. Kebencian itu kian kuat ditambah dengan kondisi keluarganya yang broken home. Alpin sendiri biasanya menonton ini lewat YouTube di warnet.

"Ditambah dia latar belakang keluarga broken home, keluarganya pisah, akhirnya dia nonton di warnet. Di situ dia ketemu seseorang yang memberikan informasi tentang tayangan-tayangan Timur Tengah," jelas Ken.

"Dia mulai berpikir, 'oh ternyata orang Timur Tengah jahat-jahat, sadis-sadis'," imbuhnya. "Karena dia secara agama tidak kuat, dari tadinya menyukai akhirnya agak takut. 'Ngeri sekali berarti orang Timur Tengah'."

Alpin sendiri mengaku memiliki latar belakang pencak silat sehingga terlatih menggunakan senjata tajam. "Modal" ini pun menguatkan niatnya untuk menyakiti Syekh Ali Jaber, apalagi ketika sang dai berada di sekitar kawasan rumahnya.

Terkait dengan kenekatannya, Ken menyebut Alpin tertekan oleh kondisi keluarga dan ekonomi alih-alih terpengaruh paham radikalisme. "Dia masalah keluarga, ekonomi tidak mampu, secara agama dia salat saja tidak bisa. Jadi kalau saya melihat ini lone wolf, dia melakukan sendiri," ungkap Ken.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts