Menuju Musim Hujan, Waspada 4 Penyakit Ini Yang Disebabkan Banjir Bandang
pixabay.com
Health

Hujan deras telah membuat sejumlah daerah di Indonesia mengalami banjir. Kini menjelang musim hujan yang semakin dekat, waspadai 4 penyakit yang kerap muncul saat terjadi banjir. Apa saja?

WowKeren - Indonesia telah memasuki musim pancaroba dan bersiap menuju musim penghujan. Hujan deras beberapa waktu lalu rupanya juga telah membuat sejumlah wilayah di Tanah Air terkena bencana banjir.

Sukabumi contohnya baru saja diterjang banjir bandang yang telah merendam rumah warga. Selain Sukabumi, wilayah DKI Jakarta juga sempat terendam banjir beberapa waktu lalu saat terjadi hujan deras.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan dampak banjir yang berkaitan dengan efek kesehatan. Sejumlah penyakit mengancam kesehatan masyarakat yang tempat tinggalnya dilanda bencana banjir akibat terpapar air yang tercemar.

"Terdapat peningkatan risiko infeksi penyakit yang ditularkan melalui air lewat kontak langsung dengan air yang tercemar," tulis WHO dalam laman resminya, Jumat (25/9). "Seperti infeksi luka, dermatitis, konjungtivitis, malaria, tifus, dan infeksi telinga, hidung, hingga tenggorokan."

Berikut merupakan sejumlah penyakit yang disebabkan oleh banjir dan patut diwaspadai oleh masyarakat Indonesia:

1. Kolera

Kolera

Berbagai Sumber

Penyakit kolera disebabkan oleh infeksi bakteri bernama vibrio cholerae. Dilansir dari Alodokter, bakteri kolera biasa hidup di alam bebas, terutama di lingkungan perairan seperti sungai, danau, sumur, atau saat bencana banjir. Adapun sumber penyebaran utama bakteri kolera berasal dari air dan makanan yang terkontaminasi bakteri kolera.

Gejala kolera adalah diare parah yang ditandai dengan tinja cair dan berwarna pucat. Selain diare, gejala yang akan dialami adalah mual, muntah, hingga penderita mengalami kram perut. Gejala kolera lebih rentan menimpa anak dengan lebih berat ketimbang orang dewasa.

Penanganan utama yang diberikan untuk penderita kolera adalah dengan mencegah agar tidak dehidrasi. Jika dirawat di rumah sakit, dokter biasanya akan memberikan larutan oralit untuk mengganti cairan serta ion mineral di dalam tubuh. Namun bila penderita terus muntah-muntah dan tidak bisa minum, maka akan diberikan cairan infus hingga obat-obatan.

2. Hepatitis A

Hepatitis A

Berbagai Sumber

Hepatitis A merupakan penyakit peradangan organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A. Akibat infeksi, kerja organ hati akan terganggu dan dapat menular dengan mudah melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi virus. Penyebaran virus ini biasanya terjadi melalui konsumsi makanan, minuman atau sumber air yang telah terkontaminasi tinja penderita hepatitis A


Gejala yang sering timbul jika terinfeksi Hepatitis A perubahan warna mata dan kulit menjadi kuning. Namun sebelum timbulnya penyakit kuning, penderita biasanya akan mengalami gejala demam, lemas, mual dan muntah, warna urine menjadi gelap, dan warna tinja menjadi pucat.

Penyakit Hepatitis A sendiri biasanya akan sembuh dengan sendirinya karena sistem kekebalan tubuh penderita dapat membasmi virus tersebut. Meski demikian, penderita diminta untuk terus menjaga kebersihan demi mencegah penularan ke orang lain.

3. Tifus atau Demam Tifoid

Demam Tifoid

Berbagai Sumber

Deman tifoid atau yang biasa dikenal dengan nama tifus (tipes) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri salmonella typhii. Penyakit tifus dapat menular dengan cepat melalui konsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi tinja yang mengandung bakteri salmonella typhii.

Indonesia sendiri mencatat setidaknya 100.000 penduduk terserang penyakit tifus setiap tahunnya. Oleh sebab itu, penyakit ini telah dinyatakan sebagai penyakit endemik dan masalah kesehatan yang serius di Tanah Air. Bencana banjir juga turut meningkatkan tingginya penderita tifus lantaran banyak makanan dan minuman menjadi tercemar atau tidak higienis.

Gejala umum penyakit tifus adalah demam yang meningkat secara bertahap tiap hari hingga mencapai 39°C–40°C dan biasanya akan lebih tinggi pada malam hari. Lalu penderita juga akan merasakan gejala nyeri otot, sakit kepala, merasa tidak enak badan, sakit perut, hingga berat badan menurun.

Pengobatan tifus biasanya dilakukan dengan pemberian obat antibiotik yang disesuaikan dengan tingkat keparahan penderita. Selain itu, ada langkah pencegahan yang bisa diambil agar terhindar dari penyakit ini. Cara ini adalah melakukan vaksinasi tifoid yang telah dianjurkan oleh Pemerintah Indonesia.

4. Leptospirosis

Leptospirosis

Berbagai Sumber

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans, dan biasa disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Biasanya penyakit ini berasal dari air kencing tikus dan bangkai-bangkai tikus saat terendam banjir. Bangkai tikus sediri biasa terlihat banyak bermunculan setelah banjir mulai surut.

Adapun gejala leptospirosis meliputi mual, muntah, meriang, sakit kepala, nyeri otot (biasa pada betis), sakit perut, diare, kulit atau area putih pada mata yang menguning, demam, ruam, dan konjungtivitis. Gejala biasa muncul secara mendadak dalam waktu 2 minggu setelah penderita terinfeksi. Bahkan sejumlah kasus mengungkap gejala baru muncul setelah 1 bulan sejak terinfeksi.

Pengobatan leptospirosis biasa mengandalkan antibiotik untuk membasmi bakteri dan mengembalikan fungsi tubuh yang terganggu akibat kondisi ini. Selain antibiotik, obat pereda nyeri, seperti paracetamol juga dapat diberikan untuk mengatasi gejala awal leptospirosis, seperti demam, sakit kepala, atau nyeri otot.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts