Usulan Kapasitas Pesawat 100 Persen di Masa Pandemi: Disambut Baik Maskapai, Ditolak Ahli Kesehatan
Nasional
Skenario New Normal COVID-19

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia hingga kini masih membatasi kuota penumpang pesawat maksimal 70 persen dari total kursi yang tersedia agar para penumpang dapat menjaga jarak satu sama lain.

WowKeren - Pengamat penerbangan dari Pusat Studi Air Power Indonesia, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, mengusulkan agar kapasitas angkut penumpang pesawat dinaikkan kembali menjadi 100 persen. Usulan ini lantas disambut baik oleh maskapai Lion Air.

Menurut Direktur Operasi Layanan Kebandarudaraan Lion Air Group Wisnu Wijayanto, kapasitas dapat dinaikkan kembali menjadi 100 persen karena di setiap pesawat sudah pasti terpasang alat penyaring udara bebas bakteri high-efficiency particulate air (HEPA). Wisnu menjelaskan bahwa HEPA mampu membuat para penumpang aman dari penularan virus corona (COVD-19).

"Kelengkapan HEPA pada kabin pesawat terbang patut menjadi peluang rujukan untuk menentukan persentase jumlah penumpang yang dapat diizinkan," ujar Wisnu pada Rabu (26/9) lalu. "Kami siap kalau diminta kolaborasi dengan Badan Litbang Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan bila harus ada penelitian yang menggunakan fasilitas kami terhadap kapasitas 100 persen."

Namun demikian, usulan ini mendapat tanggapan negatif dari ahli kesehatan. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman memperingatkan bahwa penularan COVID-19 di Tanah Air kini masih tinggi.


Dedi meminta agar pengusaha "menahan diri" terlebih dahulu, dan pemerintah tak mengakomodasi usulan ini. "Kasus terkonfirmasi penularan per hari kita 4.000 orang lho, mohonlah menahan diri," ujar Dedi dilansir Tirto pada Sabtu (26/9).

Lebih lanjut, Dedi menilai hal ini bukan terkait teknologi HEPA di dalam pesawat saja. "Penumpang itu bisa tertular di ruang tunggu, kemudian saat dia turun dari pesawat. Jadi lihatnya harus holistik, jangan bilang aman kalau di pesawat doang," terang Dedi.

Menurut Dedi, hal yang paling bijak dilakukan saat ini adalah tetap mematuhi protokol kesehatan, salah satunya dengan menjaga jarak. Ia menyatakan apabila kapasitas pesawat dinaikkan menjadi 100 persen, maka kerumunan orang di bandara akan semakin padat. "Mau secanggih apa pun (teknologi), penularan tetap bisa terjadi selama kita tidak menjaga jarak," pungkas Dedi.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia hingga kini masih membatasi kuota penumpang pesawat maksimal 70 persen dari total kursi yang tersedia. Pembatasan ini dilakukan agar para penumpang dapat menjaga jarak satu sama lain.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts