BMKG Gaungkan Mitigasi 20-20-20 Hadapi Ancaman Tsunami Dahsyat 20 Meter, Seperti Apa?
Nasional

Riset ITB menyebut pesisir selatan Jawa terancam bencana tsunami dengan tinggi 20 meter. BMKG pun mengingatkan mitigasi '20-20-20' untuk menghadapinya, seperti apakah?

WowKeren - Di tengah pandemi COVID-19 yang belum teratasi, temuan potensi tsunami dahsyat setinggi 20 meter yang diungkap Institut Teknologi Bandung (ITB) terus mencuri perhatian. Bahkan temuan itu sudah dikonfirmasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sampai Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Berdasarkan penelitian LIPI, bencana dahsyat ini kemungkinan baru akan terjadi beberapa ratus tahun ke depan. Kendati demikian, masyarakat tetap diminta untuk waspada dalam rangka mitigasi bencana tsunami.

Dan kekinian, BMKG mengungkap metode mitigasi "20-20-20" untuk menghadapi bencana dahsyat tersebut. Seperti apakah?

Diungkap oleh Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, "20-20-20" adalah skema mitigasi yang paling mudah diingat dan dipahami masyarakat. Skema itu menjelaskan jika masyarakat merasakan guncangan selama 20 detik, maka setelah itu harus mengevakuasi diri.


Angka 20 berikutnya merujuk pada potensi terjadinya tsunami 20 menit setelah guncangan tersebut. Masyarakat diimbau lari menjauhi pantai menuju tempat yang minimal ketinggiannya mencapai 20 meter.

Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah skema mitigasi ini masih relevan dan efektif dalam menghadapi tsunami dahsyat tersebut? "Jadi saya kira ini (skema mitigasi 20-20-20) masih sangat relevan untuk digunakan," terang Rahmat, Minggu (27/9).

"Prinsip 20-20-20 merupakan skema mitigasi bencana gempa dan tsunami yang mudah diingat dan dipahami masyarakat," imbuhnya, dilansir dari Kompas, Senin (28/9). "Sosialisasi dan edukasi gempa memang harus dilakukan dengan cara-cara pendekatan yang mudah dipahami seperti dengan skema tersebut. Jadi saya kira skema ini masih relevan diterapkan."

Kendati demikian, Rahmat menyebut masyarakat saat ini sudah jauh lebih waspada terhadap potensi terjadinya tsunami sejak bencana serupa menyapu Aceh pada 2004 lalu. Bahkan ketika BMKG tak menyampaikan potensi terjadi tsunami, warga di pesisir pantai yang merasakan gempa, terutama bila magnitudonya besar, akan langsung melarikan diri ke dataran yang lebih tinggi.

Namun acap kali daerah pinggir pantai tak dilengkapi dengan dataran tinggi yang mudah dicapai. Oleh karena itu Pakar Geoteknologi LIPI juga mengimbau agar pemerintah menyiapkan bangunan-bangunan dengan kaki tinggi yang mudah dicapai masyarakat.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts