LIPI Buka Suara Terkait Temuan Amoeba Pemakan Otak di Texas AS
Health

Peneliti amoeba dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arif Nurkanto menyampaikan pendapatnya terkait temuan kasus amoeba pemakan otak di Texas, Amerika Serikat.

WowKeren - Warga Texas, Amerika Serikat, beberapa waktu terakhir dikejutkan dengan temuan kasus amoeba pemakan otak di delapan kota. Otoritas setempat pun mengeluarkan larangan penggunaan air sampai pengumuman lebih lanjut. Larangan tersebut dikeluarkan sebab amuba itu telah ditemukan pada sumber air yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

Dikutip dari CNN, larangan tersebut dikeluarkan oleh Texas Commission on Environmental Quality (TCEQ) kepada penduduk yang menggunakan layanan air dari Brazosport Water Authority (BWA). "TCEQ atas arahan Kantor Gubernur bekerja sama dengan BWA untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin," bunyi larangan itu.

Amoeba pemakan otak tersebut bernama Naegleria fowleri, dan ditemukan pada sumber air terdekat pada Jumat (25/9) waktu setempat. Penemuan tersebut berawal dari sebuah insiden pada 8 September lalu, ketika kota Lake Jackson, Texas, dikejutkan dengan kasus seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang dirawat di rumah sakit karena infeksi amoeba.

Kasus yang menimpa anak itu diduga berasal dari dua sumber, yaitu air mancur di depan Lake Jackson Civic Center atau melalui air yang berasal dari saluran rumah di tempat anak itu tinggal. Pemerintah kota mengatakan air mancur segera ditutup dan mereka menyewa laboratorium pribadi untuk menjalankan tes pada sampel air dari air mancur.

Hasil tes terbukti negatif pada 14 September, namun Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) segera dihubungi untuk melakukan pengujian lebih lanjut. Perwakilan dari Texas Department of Health Services mengumpulkan air dan menguji sampel untuk diserahkan kepada CDC. Hingga 25 September, tiga dari 11 sampel air dinyatakan positif terkontaminasi Naegleria fowleri.

Menanggapi kasus ini, peneliti amoeba dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arif Nurkanto mengatakan, dari sudut pandang ilmiah Naegleria fowleri lebih tepat disebut free living organism ketimbang amoeba. Organisme tersebut memang bisa menginfeksi manusia, terutama anak-anak berusia di bawah 13 tahun, dimana 80 persen korbannya adalah laki-laki.


"Kasusnya jarang, tapi fatal. Kebanyakan kasus ditemukan di AS. Di Asia Tenggara sendiri pernah dilaporkan di Thailand dan Vietnam," kata Arif, Minggu (28/9).

Kasus yang disebabkan oleh infeksi Naegleria fowleri ini jarang terjadi. Di AS sendiri dilaporkan kurang dari 160 kasus dalam 25 tahun terakhir, tapi dampaknya memang fatal. "Dari jumlah tersebut hanya 3-4 orang yang survive. Karena dia free living organism, tidak ada obat khusus yang bisa mengatasi secara efektif," ungkapnya.

Meski begitu, organisme tersebut tak dapat menular dari manusia ke manusia. Infeksi terjadi karena Naegleria fowleri masuk lewat air melalui hidung, biasanya setelah bermain di danau, atau sungai.

"Di habitat alaminya, dia makan bakteri," jelasnya. "Tetapi kalau dia menginfeksi manusia, dia akan tinggal di otak dan memakan otak dengan cara menghasilkan enzim protease specifik yang bisa melisiskan sel otak."

Terkait potensi keberadaan Naegleria fowleri di Indonesia memang ada, namun ia menambahkan agar tidak perlu khawatir berlebih. Sebab, jumlahnya tidak memungkinkan untuk terjadinya infeksi.

"Kalau di Indonesia, organisme itu diversity atau ragamnya banyak, tapi jumlahnya terlalu sedikit. Artinya, dia memiliki banyak pesaing, sehingga jumlahnya tidak mencukupi untuk terjadinya infeksi," ungkapnya.

Untuk mencegah infeksi tersebut terjadi maka perlu menjaga kebersihan air secara rutin. Misalnya, dengan menyaring air dari keran yang akan digunakan untuk mandi, maupun dikonsumsi. "Cara biasa saja sudah mencukupi. Kalau di AS, dia biasanya booming pas musim panas. Intinya, kebersihan air paling utama," pungkasnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts