Mengenal Silvany Pasaribu, Diplomat RI Yang ‘Garang’ Pada PM Vanuatu Soal Isu Papua
Nasional

Intip sepak terjang sosok Silvany Pasaribu, seorang diplomat Indonesia yang dengan ‘garang’ memberikan jawaban menohoknya kepada Perdana Menteri Vanuatu soal isu Papua.

WowKeren - Sosok Silvany Austin Pasaribu tengah menjadi sorotan dan perbincangan di media sosial. Pasalnya, diplomat perwakilan Indonesia ini dengan berani memberikan jawaban tegasnya kepada Perdana Menteri Vanuatu Bob Loughman yang mengungkit isu Papua di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dilansir dari laman Kemenlu.go.id, Silvany rupanya menjabat sebagai Sekretaris Kedua untuk Urusan Ekonomi I untuk Perutusan Tetap RI di PBB, New York, AS. Ia juga pernah menjadi Atase Kedutaan RI di Inggris.

Silvany diketahui menempuh pendidikan S1 di Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjajaran, Bandung. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S1, ia mengawali kariernya dengan bekerja di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Silvany juga kembali melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Ia menempuh pendidikan S2 di Universitas Sydney, Australia. Selanjutnya, ia fokus berkarier sebagai diplomat di Kemenlu hingga saat ini.


Sebelumnya, PM Vanuatu Bob Loughman menyinggung dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua dalam Sidang Majelis PBB. Silvany sebagai perwakilan Indonesia langsung menggunakan hak jawabnya.

Silvany dengan tegas membantah tudingan PM Bob Loughman terkait adanya isu pelanggaran HAM di Papua. Ia juga turut menyerang Vanuatu dengan kata-kata tajamnya.

Menurutnya, tuduhan Vanuatu soal pelanggaran HAM di Papua adalah hal yang memalukan. Ia menyebut Vanuatu terlalu ikut campur dengan urusan Indonesia dan menyuruh negara tersebut untuk menjalankan terlebih dahulu apa yang tercantum dalam Piagam PBB.

”Saya bingung, bagaimana bisa sebuah negara berusaha mengajarkan negara lain, tapi tidak mengindahkan dan memahami keseluruhan prinsip fundamental Piagam PBB," tegas Silvany Austin Pasaribu dalam pidatonya di akun YouTube PBB, Minggu (27/9). Ini memalukan.”

”Bahwa suatu negara terus memiliki obsesi tidak sehat yang berlebihan tentang bagaimana seharusnya Indonesia bertindak atau memerintah sendiri,” sambungnya dengan tajam. “Sebelum hal itu dilakukan, tolong jangan menceramahi negara lain.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts