Twitter Larang Penggunanya Doakan Donald Trump Meninggal Karena Corona
Getty Images
Tekno
Pandemi Virus Corona

Pihak Twitter menyatakan bahwa pengguna tidak diizinkan untuk secara terbuka mendoakan kematian Trump di platform mereka karena cuitan semacam itu melanggar kebijakan Twitter.

WowKeren - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19). Kabar ini diungkapkan sendiri oleh Trump usai penasihat seniornya, Hope Hicks, dikonfirmasi positif COVID-19.

Melansir Vice, sejumlah warganet justru mendoakan agar Trump meninggal akibat virus yang kini telah merenggut nyawa lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia tersebut. Di media sosial Twitter, beberapa warganet juga telah menyatakan secara eksplisit bahwa mereka berharap sang Presiden meninggal karena COVID-19.

Menanggapi hal ini, pihak Twitter menyatakan bahwa pengguna tidak diizinkan untuk secara terbuka mendoakan kematian Trump di platform mereka karena cuitan semacam itu melanggar kebijakan Twitter. Hal ini bisa membuat akun yang mengunggah cuitan tersebut diubah pihak Twitter ke mode "hanya baca" (read only). Meski demikian, akun mereka belum tentu ditangguhkan secara otomatis.

"Cuitan yang menginginkan atau mengharapkan kematian, cedera tubuh yang serius atau penyakit fatal terhadap siapa pun tidak diizinkan dan perlu dihapus," demikian kutipan pernyataan Twitter, dilansir Guardian pada Sabtu (3/10). Menurut seorang perwakilan Twitter, kebijakan tersebut sudah diterapkan sejak April dan berlaku untuk semua pengguna, bukan hanya Trump saja.


Selain itu, pihak Twitter juga mengungkapkan seberapa ketat Twitter akan menerapkan kebijakan ini terkait dengan Trump. Twitter mengaku mereka tidak akan menindak seluruh cuitan terkait yang ada.

"Kami memprioritaskan penghapusan konten jika ada ajakan bertindak yang jelas yang berpotensi menyebabkan bahaya di dunia nyata," ungkap perwakilan Twitter kepada Motherboard. Namun, belum jelas dimana garis batas yang ditentukan oleh Twitter.

Adapun kebijakan Twitter ini dinilai banyak penggunanya bersifat munafik. Pasalnya, beberapa pengguna mengaku menerima ancaman pembunuhan secara berkala di platform media sosial tersebut, namun Twitter hanya memberikan respons yang dinilai kurang.

Juru bicara utama organisasi hak digital Fight For the Future, Evan Greer, mengaku menerima ancaman pembunuhan "mingguan dan terkadang setiap hari" hanya karena dirinya merupakan seorang wanita transgender. "Keputusan untuk tiba-tiba menegakkan kebijakan ini membuktikan bahwa keputusan moderasi konten yang terpusat dengan monopoli Big Tech akan selalu melindungi yang kuat dan membungkam yang terpinggirkan," tegas Greer.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts