Air Danau Sentani di Papua Surut, Benda Purbakala Bermunculan ke Permukaan
SerbaSerbi

Surutnya air ini disebabkan karena pasokan air dari sumber mata air Cyclops berkurang. Dalam kondisi biasa, benda-benda ini terlihat namun tidak begitu jelas

WowKeren - Kondisi surutnya air Danau Sentani yang ada di Papua membuat benda-benda yang ada di dalam air terlihat di permukaan. Bukan benda biasa, benda-benda ini merupakan peninggalan zaman purbakala yang berupa menhir dan papan batu.

Peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Papua Hari Suroto mengatakan surutnya air membuat benda-benda ini terlihat jelas. Benda yang merupakan peninggalan zaman megalitik ini sempat dikhawatirkan hilang akibat banjir.

"Surutnya air Danau Sentani membuat benda-benda purbakala berupa tinggalan megalitik yang berada dalam air mulai muncul di permukaan air dan terlihat jelas," kata Hari dilansir Antara, Selasa (6/10). "Benda-benda megalitik ini sebelumnya sempat dikhawatirkan hilang atau tergeser posisinya akibat banjir bandang yang melanda Sentani pada Maret 2019."

Surutnya air ini disebabkan karena pasokan air dari sumber mata air Cyclops berkurang sehingga menjadikan volume air danau berkurang. Dalam kondisi biasa, benda-benda ini terlihat namun tidak begitu jelas. Saat kondisi danau pasang, benda-benda bernilai sejarah itu terlihat samar-samar berada di dalam air. "Namun, kali ini berbeda, terlihat sangat jelas ketika air Danau Sentani surut," ujarnya.


Adapun kondisi ini bisa terlihat di Pulau Asei. Pulau Asei merupakan pulau kecil yang ada di tengah Danau Sentani bagian timur. Dari sana terlihat jelas bentuk menhir dan juga ukirannya.

Sementara itu di Tanjung Warakho, Kampung Doyo Lama, sebuah papan batu yang sebelumnya tidak terlihat begitu jelas kini bisa diamati dengan jelas di permukaan tanah tepi danau. Posisinya tidak berubah dari semula.

Selain di Pulau Asei, menhir juga ditemukan di Perairan Pulau Mantai. Namun menhir di sini berukuran raksasa dan dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai laki-laki dan perempuan dewasa.

Lalu di sekitarnya juga terdapat beberapa menhir dengan ukuran yang lebih kecil. Menhir ini dipercaya sebagai anak dari kedua menhir dewasa tersebut. Masyarakat Kwadeware menyebut menhir ini sebagai batu rejeki. Menhir-menhir itu dikenal dengan sebutan "Ainining Duka" atau batu beranak.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait