Vaksin Corona Siap Edar November Masih Diragukan Keamanannya, Efek Samping Bisa Ganggu Fungsi Otak
Nasional
Vaksin COVID-19

Pemerintah mengklaim siap melakukan vaksinasi COVID-19 mulai November 2020. Namun Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman meragukan keamanan vaksin itu.

WowKeren - Pemerintah rupanya siap melakukan vaksinasi COVID-19 mulai November 2020 mendatang. Total vaksin dari 3 perusahaan yang akan didatangkan demi menyukseskan misi melindungi masyarakat Indonesia dari pandemi COVID-19 ini.

Namun keamanan vaksin ini rupanya masih diragukan, salah satunya oleh Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman. Dicky menyebut belum ada vaksin yang benar-benar diklaim ampuh dan efektif mencegah COVID-19, sehingga kesiapan vaksinasi pada November 2020 mendatang harus disikapi dengan sangat hati-hati.

"Hingga saat ini belum ada vaksin yang dinyatakan lulus uji secara ilmiah, lulus standar keamanan, dan efektivitas," jelas Dicky, Selasa (13/10). Meskipun Dicky tak menampik banyak media yang memberitakan kabar positif dari uji klinis vaksin-vaksin ini.

Dalam banyak riset, imbuh Dicky, keberhasilan vaksin penyakit menular yang pernah dibuat umumnya kurang dari 40 persen. "Ini yang harus dipahami. Jangan sampai ada hal di luar sains dalam memilih suatu vaksin," jelas Dicky, dilansir dari CNN Indonesia.

Inisiatif vaksinasi COVID-19 ini memang harus disikapi dengan hati-hati terutama bila uji klinisnya belum rampung seperti saat ini. Sebab bercermin pada kondisi serupa ketika swine flu, efek samping dari vaksin yang belum selesai uji klinis bisa berakibat fatal.


Kala itu, efek samping yang ditimbulkan sampai mengganggu kinerja otak dalam mengatur bangun dan tidur. Akhirnya terjadi gangguan neurologis kronik bernama narkolepsi yang mengganggu jam biologis manusia.

"Ini kan hanya salah satu bukti, selain bukti-bukti sebelumnya di mana penerapan keputusan pemakaian vaksin ini harus betul-betul berbasis sains. Dan saat ini, sekali lagi belum ada vaksin yang aman," terang Dicky.

Dicky sendiri menegaskan klaim vaksin bisa digunakan tahun ini baru sebatas pernyataan pribadi alih-alih terbukti secara ilmiah. "Itu kan baru klaim. Kita harus tetap melihat hasil riset itu," ungkap Dicky.

"Jadi saran saya untuk pemerintah harus sangat hati-hati dalam kaitan obat atau vaksin COVID-19," imbuh Dicky. "Karena dinamika risetnya sangat tinggi dan probabilitasnya tidak besar."

Dicky malah meminta pemerintah lebih fokus meningkatkan pengetesan, pelacakan dan pengobatan COVID-19. Sebab malah langkah ini yang lebih bisa mengendalikan pandemi COVID-19 alih-alih "bertaruh" pada obat dan vaksin yang masih belum terbukti ilmiah keamanannya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts