Nekat 'Hadiahkan' Kotoran ke Nakes, Istri Pasien COVID-19 di Surabaya Terancam 1 Tahun Bui
Nasional
COVID-19 di Indonesia

N (50) ditetapkan menjadi tersangka usai beberapa pekan lalu memberi 'bingkisan' berupa kotoran manusia kepada nakes Satgas COVID-19 Sememi Surabaya yang menjemput suaminya.

WowKeren - Sebuah kejadian tak menyenangkan terjadi di Surabaya pada awal Oktober 2020. Seorang tenaga medis dari Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Puskesmas Sememi. Pasalnya istri pasien COVID-19 yang dijemput sang nakes "menghadiahkan" kotoran manusia kepadanya.

Kejadian yang disebut-sebut wujud kurang teredukasinya masyarakat soal COVID-19 itu akhirnya ikut ditangani pihak kepolisian dan kekinian memasuki babak baru. Pelaku pelemparan kotoran itu kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Surabaya.

"Ya, sudah tersangka," ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran, Kamis (15/10). "Disangkakan Pasal 212 KUHP ancaman 1 tahun 4 bulan, dan Pasal 14 ayat 1 UU RI 4/1984 ancaman 1 tahun penjara."

Menurut Sudamiran, penetapan tersangka ini dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 7 saksi, yakni tenaga medis dan pihak terlapor. "Dan memeriksa foto serta video dokumentasi sebagai bukti," imbuh Sudamiran, sebagaimana dikutip dari Basra.


Kendati demikian, sampai saat ini N (50), sang tersangka, masih belum ditahan pihak kepolisian. "Belum ditahan, baru penetapan tersangka," pungkas Sudamiran.

Dokter Lolita Riamawati selaku Kepala Puskesmas Sememi sebelumnya membenarkan peristiwa tersebut. "Iya benar (nakes Puskesmas Sememi). Baru pertama kalinya kejadian itu terjadi. Karena tidak semua masyarakat itu bisa menerima penyakit COVID-19 ini," jelas Lolita, Jumat (2/10).

Kala itu petugas kesehatan menjemput pasien X yang juga menderita penyakit penyerta. Namun tampaknya istri pasien X masih belum bisa menerima hingga memberi "bingkisan" berupa kotoran manusia.

"(Nakes sudah tahu itu kotoran manusia) Soalnya dari baunya sudah tercium. Terus Mas Cholik (nama nakes yang menjadi korban) bilang 'Bu, lapo sih atek ngunu? (Bu, ngapain harus begitu?)'," kata Lolita. "Menurut cerita Mas Cholik, si ibu juga sempat bilang 'nyoh tithik endang (ini sedikit aja)' terus sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas."

Kendati demikian, Cholik dan kawan-kawan tetap bekerja secara profesional, fokus, dan sabar. "Karena pasien adalah yang utama," sambung Lolita.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts