Waspada! BMKG Peringatkan Bali Berpotensi Dihantam Gempa Besar Dan Tsunami
pxhere.com/Ilustrasi
Nasional

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terkait potensi terjadinya gempa besar dan tsunami di Bali, imbau masyarakat waspada namun tidak panik termakan hoaks.

WowKeren - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bali baru saja memperingatkan potensi terjadinya gempa besar hingga tsunami di Pulau Dewata. Para ahli lantas meminta masyarakat Bali untuk tetap waspada mengenai ancaman bencana alam tersebut.

Potensi gempa besar dan tsunami di Bali tersebut rupanya berdasarkan dari referensi BMKG yang telah diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) pada tahun 2017 silam. Dalam penelitian tersebut, ada peta yang menjelaskan alur potensi gempa yang mengancam Pulau Bali. Tak hanya Bali, gempa dan tsunami juga mengancam beberapa wilayah lain.

"Untuk potensi maksimum di selatan Bali adalah segmen megathrust Sumba M8.5 dan segmen megathrust Jawa Timur M8.7," ujar Kepala Bidang Data dan Informasi Bali Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Iman Fatchurochman seperti dilansir dari Radar Bali pada Rabu (14/10). "Kalau kita lihat di peta tersebut, potensi maksimum gempa M>8 itu bukan hanya Bali, tetapi (potensi) juga ada di setiap area megathrust seperti Sumatera, Sulawesi, dan Papua."

Meski demikian, referensi tersebut merupakan potensi bukan prediksi. Karena itu, masih belum bisa diketahui secara pasti kapan akan terjadi. "Potensi bukan prediksi. Belum ada yang dapat memprediksi gempa," tegas Fatchurochman.

Fatchurochman menjelaskan langkah antisipasi yang bisa dilakukan dari sekarang adalah melakukan mitigasi gempa dan tsunami, baik dari komponen struktur maupun kultur. Mitigasi di bagian struktur bisa dilakukan dengan memperbanyak jumlah sensor gempa dan alat observasi tsunami sehingga info gempa dan peringatan dini tsunami bisa disampaikan lebih cepat. Hal ini dinilai dapat memberikan waktu lebih lama bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi.


Selanjutnya mitigasi di bagian kultur bisa dilakukan dengan meningkatkan sosialisasi terhadap masyarakat terkait proses evakuasi bencana. Selain itu, bisa dilakukan langkah antisipasi dengan membangun rumah tahan gempa hingga penanaman mangrove untuk membantu menghadang gelombang tsunami.

"Komponen struktur seperti penyiapan infrastruktur pendeteksi Gempa bumi dan peringatan dini tsunami seperti yang sudah dilakukan,” jelas Fatchurochman. "Ya misalnya penanaman rumah tahan gempa, pembangunan jalur evakuasi, pembangunan shelter tsunami, penanaman mangrove sebagai pelindung dari gelombang tsunami dan lainnya."

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Denpasar Ikhsan meminta masyarakat untuk tidak panik mengenai potensi gempa dan tsunami tersebut. Terlebih, saat ini masih belum ada alat yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa. Ikhsan mengimbau agar masyarakat tetap selalu waspada dan tidak terpengaruh dengan isu hoaks.

"Imbauan kami BMKG agar masyarakat jangan panik dalam menanggapi pemberitaan tersebut dan jangan mudah termakan isu atau hoaks yang belum terkonfirmasi kebenarannya," kata Ikhsan seperti dilansir dari Detik, Kamis (15/10). "Selalu update informasi melalui kanal-kanal informasi resmi milik BMKG, seperti infobmkg atau melalui aplikasi Android wrsbmkg."

"Kajian-kajian seperti ini bukan untuk meresahkan masyarakat tapi untuk memperkuat mitigasi bencana, meningkatkan peran institusi terkait, pemerintah daerah, dan kapasitas masyarakat dalam upaya mitigasi bencana," sambungnya. "Jadi kapan terjadinya gempa yang disebutkan dalam berita belum dapat diketahui, karena sampai saat ini belum ada satu pun teknologi yang dapat memprediksi gempa kapan, di mana dan berapa-berapa besar kekuatannya."

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts