Fakta Baru! Gejala 'Long Covid' Bisa Disebabkan Oleh 4 Jenis Sindrom, Apa Saja?
Reuters
Health
Pandemi Virus Corona

Penelitian terbaru mengungkapkan fakta lain seputar gejala 'Long Covid'. Ternyata, orang yang tidak sembuh-sembuh dari virus corona bisa disebabkan oleh 4 jenis sindrom ini. Berikut jenis dan penjelasannya.

WowKeren - Fenomena Long Covid banyak dialami oleh pasien virus corona yang tersebar di dunia. Penelitian terbaru mengungkapkan fakta lain seputar penyebab Long Covid yang disebabkan oleh 4 jenis sindrom.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan Long Covid merupakan gejala virus corona yang masih dirasakan oleh pasien positif setelah sembuh. Penyintas virus corona yang terkena Long Covid bisa mengalami masalah kesehatan dalam jangka panjang.

Dokter sekaligus penulis yang bernama Dr. Hilary Jones lantas menjelaskan mengenai gejala sindrom Long Covid. Para penderita bisa mengalami gejala kelelahan, sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, dan dalam beberapa kasus masalah dengan kehilangan ingatan, masalah konsentrasi dan depresi hingga masalah kesehatan mental lain. Sindrom Long Covid sendiri berbeda pada masing-masing orang, namun yang paling sering dialami adalah sesak napas, kelelahan, nyeri otot.

Gelaja-gejala itu disebut Jones dapat bertahan hingga berminggu-minggu bahkan bulanan hingga akhirnya membaik. "Gejala jangka panjang yang bisa memakan waktu berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, untuk membaik," kata Jones seperti dilansir dari Metro UK, Kamis (15/10).

Virus Corona

Berbagai Sumber

Sampai saat ini, masih belum diketahui data pasti jumlah pasien virus corona yang mengaku tak kunjung sembuh dari gelala COVID-19 tersebut. Meski demikian, diperkirakan hingga 10 persen orang yang terkena virus membutuhkan waktu tiga minggu atau lebih untuk pulih. Tak hanya itu, sekitar 250.000 orang di Inggris saja diperkirakan telah mengalami gejala virus corona selama 30 hari atau lebih.

Dilansir dari BBC, penelitian terbaru yang dilakukan oleh National Institute for Health Research (NIHR) mengungkapkan fakta lain mengenai Long Covid. Dalam laporannya, Long Covid ternyata tidak hanya disebabkan oleh satu sindrom tunggal melainkan ada empat. Bahkan, empat sindrom berbeda tersebut bisa dialami oleh beberapa pasien secara bersamaan.

"Kami percaya bahwa istilah Long Covid digunakan sebagai penampung semua untuk lebih dari satu sindrom," kata penulis utama laporan NIHR, Dr Elaine Maxwell seperti dilansir dari BBC, Jumat (16/10). "Mungkin hingga empat."

Dilansir dari Guardian, berikut merupakan penjelasan dari keempat sindrom Long Covid:

1. Pasien COVID-19 Pulih Dari ICU

Pasien Di ICU

Berbagai Sumber

Sindrom pertama ini bernama post-intensive-care syndrome. Pasien virus corona yang sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU biasanya menjalani proses pemulihan yang lebih panjang.

Pasalnya, pasien yang dirawat lama di ruang intensif biasanya menjadi terlalu lemah untuk duduk ataupun mengangkat lengannya sendiri. Dalam beberapa kasus, pasien juga akan mengalami kesulitan berbicara atau menelan.


Kondisi tersebut tak jarang membuat mereka terpengaruh oleh depresi atau gangguan stres pascatrauma. Meski demikian, gejala permanen yang parah tidak terbatas pada kelompok ini. Sindrom ini membuat pasien virus corona harus memulihkan diri dengan waktu yang lebih lama.

2. Kerusakan Organ Yang Berlangsung Lama

Kerusakan Organ

Berbagai Sumber

Sindrom kedua bernama permanent organ damage to the lungs and heart. Artinya, pasien virus corona akan mengalami kerusakan organ secara permanen di bagian paru-paru atau jantung. Gejala yang biasa dirasakan dalam sindrom ini adalah sesak napas, batuk, atau denyut nadi yang terus-menerus.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 6 minggu setelah meninggalkan rumah sakit, sekitar setengah dari pasien masih mengalami sesak napas. Kerusakan paru-paru sering terjadi pada pasien virus corona yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Sementara itu, sekitar sepertiga dari pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami kerusakan jantung. Dalam sebuah studi terpisah terhadap 100 pasien, banyak di antara mereka yang memiliki gejala yang relatif ringan ketika terinfeksi COVID-19. Namun, 78 pasien di antaranya menunjukkan perubahan struktural abnormal pada jantung mereka pada pemindaian MRI.

3. Kelelahan Pasca Terinfeksi COVID-19

Pasien COVID-19

Berbagai Sumber

Sindrom ketiga ini bernama post-viral fatigue syndrome. Sindrom Long Covid ini adalah pasien virus corona yang mengalami kelelahan, nyeri otot, dan kesulitan berkonsentrasi.

Sindrom kelelahan setelah terinfeksi virus corona ini masih diteliti lebih lanjut. Pasalnya, ada tumpang tindih dengan gejala sindrom kelelahan kronis lainnya, yakni CFS (chronic fatigue syndrome). CFS merupakan sindrom kelelahan kronis yang dikaitkan dengan infeksi virus Epstein-Barr dan demam Q.

Selain virus corona, sindrom kelelahan juga ditemukan pada orang-orang yang terinfeksi SARS pada 2003 silam. Kala itu, studi menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari mereka mengalami penurunan toleransi terhadap olahraga selama berbulan-bulan, meskipun paru-paru mereka tampak sehat.

4. Gejala COVID-19 Berfluktuasi Ke Seluruh Tubuh

Sindrom terakhir adalah continuing COVID-19 symptoms. Ini merupakan sindrom yang dinilai paling aneh dari ketiga sindrom Long Covid lainnya. Biasanya, gejala sindrom ini akan muncul dalam satu sistem fisiologis kemudian mereda.

Studi memaparkan saat seseorang terkena sindrom ini, gejala yang muncul akan berbeda di setiap sistem. Meskipun mekanisme yang mendasari tetap belum terbukti, gejala tersebut mungkin akan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts