Sudah Beredar di RI, WHO Malah Ungkap Remdesivir Tak Efektif Obati COVID-19
Health
Pandemi Virus Corona

Berbagai riset sebelumnya menunjukkan adanya reaksi positif dari pemberian Remdesivir dalam mengobati pasien COVID-19. Namun WHO baru-baru ini menunjukkan hasil riset yang sebaliknya.

WowKeren - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberi izin untuk penggunaan darurat Remdesivir demi mengobati COVID-19. Namun sesuai dengan statusnya sebagai obat darurat, maka Remdesivir harus dipakai di bawah pengawasan dokter dan tidak bisa ditebus sembarang orang.

Namun baru-baru ini peneliti dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) malah menyatakan bahwa Remdesivir hanya sedikit atau sama sekali tidak berdampak terhadap tingkat keselamatan pasien COVID-19. WHO sendiri menguji empat obat COVID-19.

Dilansir dari BBC, WHO menguji kembali empat obat yang selama ini dinilai berpotensi mengobati pasien COVID-19. Yakni Remdesivir yang digunakan untuk mengobati Ebola, obat malaria Hidroksiklorokuin, Interferon, dan obat kombinasi HIV Lopinavir dan Ritonavir.

Obat itu diujikan kepada 11.266 pasien dewasa di 500 rumah sakit di lebih dari 30 negara. Hasil penelitian ini memang belum ditinjau, namun sejauh ini belum ada obat yang menunjukkan dampak langsung dan efektif terhadap tingkat keselamatan pasien COVID-19.

Bahkan penelitian terhadap Hidroksiklorokuin dan Lopinavir/Ritonavir sudah dihentikan sejak Juni kemarin karena tidak terbukti efektif. Dan baru-baru ini Remdesivir pun dinyatakan tidak efektif.


Temuan ini pun langsung dibantah oleh perusahaan farmasi Gilead yang memproduksi Remdesivir. Gilead menyebut hasil penelitian itu tidak konsisten, apalagi karena belum ditinjau kembali oleh para rekan sejawat.

Gilead menyebut sebanyak seribu pasien yang diobservasi perusahaannya menunjukkan progres yang jauh lebih baik. Para pasien itu bahkan bisa keluar rumah sakit sampai 5 hari lebih cepat bila dibandingkan dengan yang tidak diberi Remdesivir alias diberi plasebo.

"Data (WHO) yang muncul tampaknya tidak konsisten," ungkap Gilead Sciences Inc dalam pernyataan resminya, dilansir pada Sabtu (17/10). "Dengan semakin banyak bukti dari berbagai penelitian terkontrol, acak yang dipublikasikan jurnal tinjauan-antar kolega memvalidasi manfaat klinis Remdesivir."

"Kami prihatin data dari uji coba label global terbuka ini belum melalui peninjauan yang ketat yang diperlukan untuk memungkinkan diskusi ilmiah yang konstruktif," imbuh Gilead. "Terutama rancangan uji cobanya terbatas."

WHO sendiri belum menanggapi bantahan Gilead itu dan malah fokus untuk menguji metode pengobatan COVID-19 lain. Di sisi lain, Ahli Paru-Paru RS Persahabatan, dr Erlina Burhan, sudah sempat menjelaskan bagaimana cara kerja Remdesivir sampai bisa dianggap efektif melawan COVID-19.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts