Guru Besar Unpad Soal Vaksinasi Corona: Tak Wajib Ikut dan Target Cuma 70 Persen
Nasional
Vaksin COVID-19

Prof Kusnandi Rusmil menegaskan bahwa vaksinasi COVID-19 pada dasarnya bukan kewajiban. Sebab prinsipnya saat ini yang terpenting 70 persen masyarakat mengikuti vaksinasi tersebut.

WowKeren - Perihal pelaksanaan vaksinasi COVID-19 yang sedianya dimulai November 2020 masih menuai pro dan kontra. Banyak yang masih tidak percaya dengan efektivitas vaksin yang diimpor dari perusahaan Tiongkok dan Inggris itu.

Menanggapinya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Prof Kusnandi Rusmil, menyatakan bahwa vaksinasi COVID-19 tidak wajib. "Tidak (wajib), siapa yang mau boleh, nggak juga nggak apa-apa," terang Kusnandi, Jumat (16/10).

Bahkan menurut Kusnandi sebenarnya yang perlu diimunisasi hanya 70 persen. Dengan prinsip herd immunity, maka 30 persen lainnya akan terlindungi dengan sendirinya.

Kendati demikian, Kusnandi yang juga menjadi Ketua Tim Riset Vaksin Corona Sinovac Unpad ini menegaskan urusan imunisasi COVID-19 adalah milik pemerintah. Mereka juga yang akan menentukan prioritas kalangan yang menjadi target vaksinasi.


Namun Kusnandi menegaskan kalangan pekerja dan orang rentan wajib menjadi prioritas pemberian vaksin. "Orang yang sudah sembuh COVID-19 perlu divaksin juga sesuai kelompok umurnya," terang Kusnandi, dilansir dari Tempo, Sabtu (17/10).

Dan selama menanti target vaksinasi itu terpenuhi, Kusnandi mendorong setiap pihak untuk terus aktif melakukan protokol kesehatan. "Kalau belum semua diimunisasi tetap harus social distancing," tegas Kusnandi.

Di sisi lain, pemerintah sudah memastikan jutaan dosis vaksin COVID-19 siap mulai November 2020 mendatang. Kementerian Kesehatan sudah membuat roadmap program vaksinasi dan ada kelompok-kelompok yang menjadi prioritas.

Vaksin dari G42/Sinopharm dan CanSino ini akan diprioritaskan untuk para petugas medis dan paramedis, pelayanan publik termasuk TNI/Polri dan aparat hukum, dengan total sebanyak 3,4 juta orang. Bagi mereka yang berstatuskan sebagai PBI Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pun bisa mengakses gratis vaksin tersebut.

Namun banyak yang masih meragukan efektivitas dari vaksin tersebut. Bahkan pakar epidemiologi meminta pemerintah lebih berhati-hati, terutama dengan potensi efek samping, karena vaksin yang siap diimpor itu belum benar-benar dinyatakan efektif menangkal COVID-19. Namun BPOM menegaskan tidak ada efek samping serius yang dialami para relawan vaksin COVID-19, terutama produksi Sinovac yang sekarang sedang diuji klinis di Indonesia.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts