6 Bulan Pandemi, IDI Sebut Angka Kematian Nakes Kian Mengkhawatirkan
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Tim Advokasi dan Hubungan Eksternal dari Tim Mitigasi PB IDI Eka Mulyana menyoroti jumlah kematian tenaga kesehatan (nakes) yang kian bertambah selama lebih dari 6 bulan pandemi COVID-19.

WowKeren - Pandemi COVID-19 di Indonesia telah berjalan lebih dari 6 bulan. Tim Advokasi dan Hubungan Eksternal dari Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Eka Mulyana pun menyoroti angka kematian tenaga kesehatan yang terus bertambah.

"Lebih dari satu semester masa pandemi ini, angka kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan semakin bertambah dan mengkhawatirkan," ujar Eka dikutip dari siaran pers PB IDI, Senin (26/10).

Menurut catatan PB IDI sejak Maret hingga Oktober 2020 ada total 253 petugas medis dan kesehatan yang meninggal akibat terinfeksi virus corona. Jumlah tersebut terdiri dari 141 dokter, 9 dokter gigi, dan 103 perawat.

Secara rinci, para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 75 dokter umum (5 guru besar),64 dokter spesialis (5 guru besar), serta 2 residen yang berasal dari 18 IDI Wilayah (provinsi) dan 66 IDI Cabang (Kota/Kabupaten). Menurut data provinsi, jumlah dokter meninggal terbanyak ada di Jawa Timur, yakni 35 dokter.

Lalu di Sumatra Utara (23 dokter), DKI Jakarta (20 dokter), Jawa Barat (11 dokter), Jawa Tengah (10 dokter), Sulawesi Selatan (6 dokter), Bali (5 dokter), Sumatra Selatan (4 dokter), Kalimantan Selatan (4 dokter), DI Aceh (4 dokter), Riau (4 dokter), Kalimantan Timur (3 dokter), Banten (3 dokter), Kepulauan Riau (2 dokter), DI Yogyakarta (2 dokter), Nusa Tenggara Barat (2 dokter), Sulawesi Utara (2 dokter), dan Papua Barat (1 dokter).


Lebih lanjut, Eka mengatakan jika pandemi COVID-19 telah mengingatkan kita semua tentang peran penting para petugas medis dan kesehatan untuk meringankan penderitaan dan menyelamatkan nyawa masyarakat. "Tidak ada negara, rumah sakit atau klinik yang dapat menjaga keamanan pasiennya kecuali jika petugas kesehatannya tetap aman dan terlindungi dari resiko terpapar COVID-19," katanya.

Ia pun mengingatkan jika hilangnya pekerja medis dan kesehatan ahli tidak dapat tergantikan dalam waktu singkat. Selain itu, meningkatnya pelecehan verbal, diskriminasi dan kekerasan fisik pada petugas medis dan kesehatan selama masa pandemi ini juga menuai keprihatinan IDI.

"Sehingga, perlindungan dan keamanan para tenaga medis dan kesehatan adalah mutlak diperlukan dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini selain tentu diperlukan juga peran serta pihak-pihak lainnya baik pemerintah pusat daerah, swasta dan para tokoh agama/masyarakat (multihelix)," imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas pengabdian, perjuangan, serta pengorbanan para dokter Indonesia. Ucapan tersebut disampaikan dalam sambutannya saat memperingati hari ulang tahun Ikatan Dokter Indonesia (HUT IDI) ke-70 pada hari ini, Sabtu (24/10).

"Saya menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas pengabdian, perjuangan, dan pengorbanan para dokter Indonesia yang berada di garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan masalah kesehatan di seluruh pelosok Tanah Air," kata Kepala Negara. "Memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan di kampung-kampung, di perbatasan, di pulau terdepan, dan juga di kawasan terisolir."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts