Long Weekend Bawa 'Angin Segar' Pelaku Bisnis Wisata
Reuters/stringer
Nasional
Efek Corona untuk Pariwisata

Libur panjang (long weekend) rupanya menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku hotel dan restoran, terutama buat di daerah-daerah yang biasanya jadi tempat tujuan wisata. Kok bisa?

WowKeren - Pemerintah menetapkan cuti bersama mulai 28 Oktober hingga 1 November 2020. Tentunya long weekend ini mendorong orang-orang untuk berlibur ke berbagai daerah.

Hal ini lantas menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku hotel dan restoran, terutama buat di daerah-daerah yang biasanya jadi tempat tujuan wisata. Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) sekaligus Founder De Solo Boutique Hotel and Restaurant, Sudrajat mengatakan jika destinasi wisata bisa terjadi peningkatan okupansi hingga lebih dari 50%.

"Pasti ada peningkatan lah hotel dan restoran dengan liburan ini, tergantung daerahnya, kalau misalkan daerah-daerah yang dituju tetap (daerah wisata) misal ke Bandung, mungkin peningkatannya bisa tinggi banget bisa di atas 50% karena orang membludak dari Jakarta," ujar Sudrajat, Kamis (29/10). "Apalagi puncak, di mana-mana sudah padat, tapi kan ya cuma dua tiga hari itu aja."

Meski begitu, momen ini disambut positif bagi para pelaku hotel dan restoran, sebab menjadi harapan yang mampu menutupi kerugian yang selama ini diderita. "Seantre-antrenya tidak seperti dulu-dulu lah, tapi ada peningkatan dan ini lumayan buat kita," tambahnya.


Senada, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta Krishandi mengatakan jika okupansi ke hotel dan restoran selama cuti bersama ini bisa naik 30-40%. Memang tak sebanyak di luar Jakarta tapi ini merupakan hal yang positif.

"Kalau untuk Jakarta mungkin pengaruhnya tidak sebesar di luar Jakarta, ada juga sih yang ngungsi ke hotel (Jakarta) terutama ke hotel yang nempel dengan mal, tapi lebih terasa kepada hotel yang di luar Jakarta seperti di Bogor, Puncak, Bandung," papar Krishandi. "Pada waktu bulan Juli-Agustus pada saat dibuka masa transisi seperti sekarang ini, beberapa hotel besar yang nempel dengan mal itu sempat 30-40% tapi begitu PSBB lagi anjlok lagi, sekarang kalau bisa kembali kira-kira di angka segituan ya."

Untuk mengantisipasi lonjakan kunjungan biasanya para pelaku hotel dan restoran telah menambah jumlah karyawan. "Walaupun selama pandemi ini ada pengurangan pegawai sampai 50%, tapi kalau dalam kondisi seperti ini ada DW (daily worker) yang sementara aja direkrut buat seminggu gitu," ungkapnya.

Sedikit berbeda, Sudrajat menilai jika sejumlah hotel dan restoran lainnya paling hanya memaksimalkan karyawan yang ada dan secara ketat menerapkan protokol kesehatan. "Beberapa restoran yang sudah paham protokol, pengunjung yang kebanyakan diminta tunggu dulu, tapi kadang ada customer yang maksa, satu dua pasti ada yang melanggar, tapi mudah-mudahan menyesuaikan protokolnya," katanya.

Ia menilai menambah karyawan di tengah pandemi menjadi beban tersendiri untuk sejumlah pengusaha hotel dan restoran. Sehingga ada saja pengusaha yang memilih tidak buka sama sekali sampai kondisi benar-benar kembali normal seperti sebelum pandemi. "Meskipun liburan begini banyak juga hotel restoran yang milih tetap tutup karena kan kalau buka harus rekrut karyawan lagi terus gaji karyawan juga kalau cuma 3 hari kan juga susah," pungkasnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts