Terbaru! Ini Prediksi Ahli Soal Kapan Puncak COVID-19 Di Indonesia
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ahli epidemiologi UI memberikan prediksi terbaru kapan puncak pandemi virus corona akan terjadi di Tanah Air, singgung potensi Indonesia hadapi gelombang kedua COVID-19.

WowKeren - Indonesia telah mencatatkan lebih dari 400 ribu kasus virus corona hingga Jumat (30/10). Situasi penyebaran COVID-19 di Tanah Air sendiri dinilai masih berada dalam gelombang pertama pandemi. Hal tersebut berbeda dengan negara lain yang sudah memasuki gelombang kedua pandemi virus corona.

Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Rino lantas memberikan prediksi mengenai puncak COVID-19. Menurutnya, Indonesia masih akan mengalami kenaikan kasus virus corona hingga tahun depan.

Prediksi itu diungkapkan setelah mengamati penyebaran COVID-19 di Indonesia yang belum juga menunjukkan penurunan kasus hingga sekarang. Situasi itu masih belum ditambah dengan ancaman gelombang kedua.

Pandu lantas menilai jika Indonesia mungkin sudah melewati gelombang kedua pandemi virus corona. Pasalnya, Indonesia masih belum bisa mengendalikan gelombang pertama, sehingga kemungkinan justru membuat lolos dari gelombang kedua yang sudah lewat.


”Kami memprediksi Indonesia sudah berhasil mencegah gelombang kedua, karena gelombang pertama belum dilewati,” ujar Pandu seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (29/10). “Trennya masih meningkat sampai akhir tahun, kalau tidak ada perubahan bisa sampai tahun depan, jadi memang konsistensi penanganan pandemi kita tidak bisa setengah.”

Pandu lantas mengungkapkan kesetujuannya jika kegiatan ekonomi harus dilakukan di tengah penyebaran virus corona karena situasi pandemi berlangsung lama. Namun, ia tetap mengingatkan pentingnya penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Masyarakat diminta untuk terus menerapkan protokol 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Sedangkan pemerintah juga berupaya mengendalikan penyebaran virus corona dengan 3T, yakni meningkatkan jumlah tes untuk mencari pasien yang positif, pelacakan, dan perawatan bagi mereka yang sakit (test, trace, treat).

”Dua kombinasi itu kita bisa menekan penularan, tetapi keduanya kan tidak terjadi,” jelas Pandu. “Perilaku penduduk masih rendah memakai masker ini contoh sulitnya mengendalikan pandemi COVID-19.”

”Masih banyak yang tidak peduli dan merasa tidak berisiko, masyarakat sudah capek karena selama ini dilarang ini dan itu,” sambungnya. “Kelihatannya masyarakat sudah bosan dan tidak punya harapan kapan pandemi ini berakhir. Apakah mereka kan meningkatkan penularan, mungkin saja seperti itu.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts