Tim Kemanusiaan Sebut Oknum TNI Bunuh Pendeta di Papua, Istri Korban Akui Pelaku Bak Anak Sendiri
Nasional

Anggota Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya, Haris Azhar, menyatakan seorang oknum TNI menjadi dalang di balik terbunuhnya pendeta Yeremia Zanambani. Begini info selengkapnya.

WowKeren - Seorang pendeta di Intan Jaya, Papua bernama Yeremia Zanambani ditemukan tewas bersimbah darah pada 19 September 2020 silam. Pemerintah lantas membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang berusaha membongkar siapa dalang di balik peristiwa memilukan tersebut.

Namun tak hanya TGPF, Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya yang turut dimotori oleh Kantor Hukum dan HAM Lokataru Foundation, Haris Azhar juga ikut bergerak dan belakangan sudah mengungkap hasilnya. Disebutkan Haris, rupanya seorang oknum TNI bernama Alpius lah yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

Ada berbagai alasan di balik tudingan Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya tersebut. Salah satunya. dijelaskan Haris, pendeta Yeremia ternyata masih bisa berkomunikasi dengan istrinya ketika ditemukan dalam kondisi bersmbah darah dan mengungkap kalimat yang mengarahkan dugaan kepada Alpius.

"Pendeta Yeremia masih berkomunikasi," kata Haris, dilansir dari Kompas TV, Jumat (30/10). "Dan dalam komunikasi itu kesaksian dari Pak Pendeta kepada Mama Meriam (istri Yeremia), bahwa ini akibat dari orang yang kita kasih makan, artinya si Alpius."

Temuan Tim Kemanusiaan ini pun sempat tidak dipercayai oleh istri mendiang korban. Sebab diungkap olehnya, Alpius memang sudah dianggap bak anak sendiri. Alpius juga digambarkan sangat akrab dengan keluarga Yeremia, seperti kerap menumpang mandi, makan bersama, atau bahkan meminta air untuk merawat kebun yang dikelola oleh sang anggota TNI.


"Jadi Alpius ini cukup dikenal dan bahkan dapat julukan dengan tambahan satu marga lokal," terang Haris. "Karena dia suka ikut ibadah di satu gereja yang banyak dari marga atau keluarga tertentu."

Alasan lain yang menguatkan kecurigaan mereka terhadap Alpius adalah bermula dari sebutan musuh yang disematkan sang TNI kepada Yeremia. Kejadian ini bermula ketika para personel TNI mengumpulkan warga di lapangan depan kantor Koramil untuk diminta mengembalikan senjata yang dirampas di Sugapa Lama pada 17 September 2020.

Danramil setempat memberikan waktu dua hari untuk mengembalikan senjata. Jika tidak dipenuhi, maka akan dilakukan operasi penumpasan kepada warga.

Alpius sendiri juga setelahnya mengumpulkan warga di depan Gereja Imanuel. Saat itulah yang ia secara tersirat menilai pemuka agama sudah gagal mencegah masyarakat membunuh orang, dalam hal ini yang dimaksud adalah aksi warga yang bentrok dengan aparat.

"Orang -orang (Hitadipa) yang menjadi musuh, maka lawan dan perang dengan saya (TNI/Polri)," beber Haris, menggambarkan ancaman Alpius kepada warga yang masih nekat melawan aparat. Dan bukti kedua adalah karena ada saksi yang mengaku melihat Alpius mendatangi kandang babi tempat Yeremia kemudian ditemukan meninggal dunia.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts