Corona Bisa ‘Lenyapkan’ 660.000 Pekerjaan Di Sektor Ini
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pandemi virus corona tidak hanya mengancam kesehatan manusia, namun juga turut menghantam perekonomian dunia. Bahkan, 660 ribu lapangan pekerjaan di sektor ini terancam hilang.

WowKeren - Virus corona saat ini tidak hanya mengancam nyawa manusia saja saat menginfeksi. Pandemi COVID-19 juga telah menghantam perekonomian dunia hingga menjadi babak belur.

Salah satunya seperti yang terjadi di Inggris. Pandemi diprediksi akan membuat sebanyak 660.000 pekerjaan di sektor perhotelan Inggris menghilang pada tahun ini.

Dilansir BBC, situasi tersebut tentunya sangat mengejutkan. Bagaimana tidak, Kepala Perhotelan Inggris Kate Nicholls menyebut sektor tersebut menjadi pemberi kerja terbesar ketiga di Inggris pada akhir 2019 lalu.

Kala itu, sektor perhotelan bahkan diperkirakan dapat menciptakan satu dari enam pekerjaan baru tahun 2020 ini. Sayang, wabah virus corona yang merebak di Inggris menyebabkan hasil yang berbeda dan membuat lapangan kerja di sektor perhotelan terancam lenyap.


Berdasarkan data BBC, Inggris melaporkan 20 persen dari 3,2 juta pekerjaa di sektor perhotelan telah menghilang di tahun ini. Tak hanya itu, sektor perhotelan juga mengalami penurunan pendapatan secara drastis mencapai 40 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, sektor perhotelan di Inggris biasanya mencapai masa emasnya di sejumlah perayaan. Diantaranya adalah perayaan Halloween dan Malam Tahun Baru.

Pada masa-masa perayaan itu, sektor perhotelan mampu meraup sepertiga pendapatan tahunannya dalam waktu singkat. Namun khusus di tahun ini, masa emas di sektor perhotelan tidak akan terjadi. Sebaliknya, saat momen itu mulai datang, sektor perhotelan justru dalam perawatan intensif karena menderita kerugian besar.

Selain perhotelan, sektor lainnya yang ikut babak belur akibat pandemi virus corona adalah sektor riterl. Pimpinan Konsorsium Ritel Inggris, Helen Dickinson OBE menjelaskan kondisi sektor ritel yang telah banyak kehilangan lapangan pekerjaan.

Sejumlah pekerjaan yang hilang mulai dari peritel besar, kecil hingga toko-toko pakaian dan alas kaki lainnya. “Saya berbicara dengan satu bisnis kemarin, omset mereka turun dari US$200 juta menjadi US$160 juta,” ujar Helen seperti dilansir dari BBC, Rabu (18/11).

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts