Sri Mulyani Beberkan Bukti Efek Paling Berat Pandemi Diderita Kaum Wanita
Instagram/smindrawati
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut pandemi virus corona telah menyebabkan ketimpangan gender, soroti nasib perempuan yang terdampak paling berat.

WowKeren - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyoroti dampak pandemi virus corona. Ia menyebut kaum wanita menjadi pihak yang paling menderita melebihi laki-laki akibat efek pandemi COVID-19.

Sri Mulyani menyebut pandemi telah membuat pekerja perempuan mengalami tekanan yang lebih berat daripada pekerja pria. Hal ini tercermin dari banyaknya sektor bisnis yang terdampak pandemi, di mana sektor tersebut merupakan tempat perempuan banyak bekerja.

”Dampaknya lebih berat bagi perempuan,” ungkap Ani, sapaan akrabnya saat mengisi acara UN Women Asia Pacific & Women Empowerment Principles (WEPs) secara virtual seperti dilansir dari CNNIndonesia pada Rabu (18/11). “Ini menurunkan partisipasi pekerja perempuan.”

Berdasarkan data yang diterima Sri Mulyani, 40 persen pekerja perempuan di dunia bekerja di sektor bisnis yang paling terdampak pandemi. Diantaranya adalah restoran, perhotelan, akomodasi, dan asisten rumah tangga.

Sedangkan data lain mencatat 54 persen dari total 75 juta pekerja di bisnis restoran dan akomodasi merupakan perempuan. Tak hanya mengungkap data sektor formal, Sri Mulyani juga membeberkan data pekerja di sektor informal.


Sri Mulyani menjelaskan 60 persen dari total 740 juta pekerja perempuan di sektor informal telah kehilangan pekerjaan sejak awal pandemi merebak. Hal serupa juga terjadi dari sisi jumlah jam kerja.

Pekerja perempuan yang kehilangan jam kerja mencapai 50 persen. Sedangkan pekerja laki-laki kehilangan 35 persen jam kerja mereka di tengah pandemi COVID-19. Total pandemi virus corona membuat pekerja perempuan maupun laki-laki secara rata-rata kehilangan 18,9 persen jam kerja dari 340 juta pekerjaan penuh waktu.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menyimpulkan jika pandemi virus corona telah menyebabkan ketimpangan gender. Ia melihat partisipasi pekerja perempuan di Indonesia yang semakin tergerus akibat pandemi. Catatannya, partisipasi pekerja perempuan turun dari 55,5 persen menjadi 54,56 persen pada tahun ini.

“Mereka (kaum wanita) adalah pihak yang menderita karena kondisi ini, pekerjaan mereka yang paling terdampak COVID-19,” jelas Sri Mulyani. “Sementara tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki justru meningkat.”

Ketimpangan gender juga terlihat dari tingkat pendapatan pekerja perempuan dengan laki-laki. Pendapatan rata-rata kaum wanita lebih rendah 16 persen dari kaum pria di dunia. Sementara di Indonesia, upah pekerja perempuan lebih rendah 23 persen dari laki-laki.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts