Putus Asa Tangani Pandemi Corona, Nakes di Belgia Banting Setir Jadi Pengusaha Cupcake
Dunia
Pandemi Virus Corona

Nolwenn Le Bonzec, merupakan mantan perawat di Belgia, yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya 6 bulan lalu karena merasa lelah dan putus asa pada pandemi COVID-19.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga kini belum berakhir. Bahkan di sejumlah negara tengah bersiap menghadapi gelombang kedua dari serangan virus mematikan ini.

Pandemi yang tak kunjung berakhir tentunya membuat tenaga medis merasa lelah dan putus asa. Di Eropa sejumlah tenaga medis memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan beralih ke pekerjaan non-formal.

Seperti Nolwenn Le Bonzec, yang tinggal di ibu kota Belgia, menceritakan bagaimana dia terpaksa meninggalkan pekerjaan sebagai perawat enam bulan lalu. Mantan tenaga medis yang menolak menyebutkan dimana dia pernah bekerja mengatakan keputusannya resign dari rumah sakit untuk menyelamatkan kesehatan mental.

Setelah melepaskan pekerjaan tenaga medis, Nolwenn kini membuat serta menjual cupcake di toko Lilicup miliknya sendiri untuk menghasilkan uang. "Saya bekerja selama lima tahun di rumah sakit. Sedikit demi sedikit saya melihat kondisi kerja menurun, dan kesehatan tak lebih dari sebuah produk," ujarnya dilansir AFP, Kamis (19/11). "Awalnya, itu adalah profesi yang kami lakukan untuk menjadi manusiawi."


Tak sendiri, mantan perawat lainnya pun melakukan langkah serupa Thomas Laurent. Thomas yang sejak 15 tahun bermimpi bekerja di rumah sakit harus menyudahi mimpinya tahun ini. Pria 35 tahun baru saja meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit di kota Lyon, Prancis.

Thomas mengatakan keputusannya tersebut diambil karena kondisi di rumah sakit tempatnya bekerja tidak lagi bisa ditoleransi. Kapasitas rumah sakit serta sumber daya medis tidak lagi mampu mencukupi kenaikan jumlah pasien tiap harinya.

Nolwenn dan Thomas adalah gambaran kecil bagaimaan tekanan psikis dan mental menjadi tantangan berat sehari-hari bagi tenaga medis di negara-negara Eropa menghadapi gelombang dua pandemi COVID-19. Meskipun ada permintaan dari otoritas kesehatan Eropa agar staf medis tetap bertugas merawat pasien COVID-19, akan tetapi kekecewaan dan keputusasaan akibat buruknya sistem kesehatan masyarakat tak bisa dikesampingkan.

Menurut Nolwenn, aksi pengunduran diri petugas medis di tengah pandemi COVID-19 merupakan akumulasi kekecewaan terhadap buruknya sistem kesehatan serta perhatian pemerintah terhadap pekerja kesehatan yang masih kurang baik telah berlangsung lama.

"Kami telah menuntut kondisi yang lebih baik selama bertahun-tahun. Tetapi pemerintah Belgia tidak menganggap kami serius," kata Nolwenn. "Jika saya terus melakukannya, saya pikir saya akan jatuh ke dalam depresi. Kami memprotes. Kami berdiri. Tapi itu tidak mengubah apapun."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts